intensi…usaha

Just another Staf UMP Blogs weblog
  • Home
  • About
18 Jun 2009

PENGERTIAN DAN SEJARAH WIRAUSAHA

1.1. Pengertian Wirausaha dan Kewirausahaan

1.1.1. Pengertian Wirausaha (Entrepreneur)

Wirausaha dalam bahasa sansekerta terdiri dari kata wira dan usaha, wira artinya manusia unggul, teladan, bebudi luhur, berjiwa besar, berani, pahlawan/pendekar kemajuan, dan memiliki keagungan watak sedangkan usaha adalah melakukan kegiatan usaha. Wirausaha memiliki berbagai karakter positif yang tidak dimilki oleh para pengusaha biasa. Mereka adalah orang orang yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan peluang-peluang usaha menjadi kesempatan usaha yang menguntungkan dirinya dan masyarakat konsumennya. Mereka bukan sekedar orang yang memiliki keterampilan berbisnis, namun juga memiliki kepemimpinan pribadi yang tinggi, baik tercermin dari daya juang yang tinggi, kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan, dan toleransi terhadap ketidakmenentuan.

Definisi wirausaha yang asal katanya adalah terjemahan dari entrepreneur, yang terjemahan bahasa inggeris dengan arti between taker atau go-between. Berikut ini digambarkan perkembangan teori dan definisi wirausaha (entrepreneur) adalah sebagai berikut. Hisrich-Peter (2005:6)

1. Asal kata entrepreneur dari bahasa perancis berarti between taker atau go-between.

2. Abad pertengahan: wirausaha (entrepreneur) berarti aktor atau orang yang bertanggung jawab dalam proyek produksi berskala besar.

3. Abad 17 wirausaha (entrepreneur) diartikan sebagai orang yang menanggung risiko untung rugi dalam mengadakan kontrak pekerjaan dengan pemerintah menggunakan fixed price.

4. Tahun 1725, Richard Cantillon menyatakan wirausaha (entrepreneur) sebagai orang yang menanggung risiko yang berbeda dengan orang memberi modal.

5. Tahun 1797, Bedau menyatakan wirausaha (entrepreneur) sebagai orang yang menanggung risiko, yang merencanakan , supervisi, mengorganisasi dan memiliki.

6. Tahun 1803, Jean Baptist Say menyatakan adanya pemisahan antara keuntungan untuk entrepreneur dan keuntungan untuk pemilik modal.

7. Tahun 1876, Francis Walker, membedakan antara orang menyediakan modal dan menerima bunga, dengan orang yang menerima keuntungan karena keberhasilannya memimpin usaha.

8. Tahun 1934, Joseph Schumpeter, seorang wirausaha (entrepreneur) adalah seorang inovator dan mengembangkan teknologi.

9. Tahun 1961, David Mc Lelland, wirausaha (entrepreneur) adalah seoarang yang energik dan membatasi risiko.

10. Tahun 1964, Peter Drucker, seorang wirausaha (entrepreneur) adalah seseorang yang mampu memanfaatkan peluang.

11. Tahun 1975, Albert Shapero, wirausaha (entrepreneur) adalah seorang yang memilki inisiatif, mengorganisir, mekanis sosial dan ekonomi, dan menerima risiko kegagalan.

12. Tahun 1980, Karl Vesper, seorang wirausaha (entrepreneur) berbeda dengan seorang ahli ekonomi, psychologist, business persons, dan politicians.

13. Tahun 1983, Gifford Pinchot, intrapreneur adalah seorang entrepreneur dari dalam organisasi yang sudah ada atau organisasi yang sedang berjalan.

14. Tahun 1985, Robert Hisrich, wirausaha (entrepreneur) adalah the process of creating something different with value by devoting the necessary time and effort,assuming the accompanying financial, psychological, and social risks and receiving the resulting rewards of monetary and personal satisfaction (entrepreneur adalah merupakan proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung risiko keuangan, kejiwaan, sosial, dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasan pribadinya.

Pengertian wirausaha lebih lengkap dinyatakan oleh Schumpeter adalah entrepreneur as the person who destroys the existing economic order by introducing new products and services, by creating new forms of organization, or by exploiting new raw materials. ( Buchari Alma, 2004:21). Jadi menurut Schumpeter wirausaha adalah orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru ataupun bisa pula dilakukandalam organisasi bisnis yang sudah ada.

Para ekonom klasik, termasuk Karl Marx, mengidentifikasikan wirausaha sebagai kapitalis (wirausaha-kapitalis). Sedangkan para ekonom lainnya, mengidentifikasi wirausaha sebagai seorang pekerja khusus pengelola perusahaan (wirausaha manajer/pekerja). (Röpke, 1995:16)

Dalam konteks manajemen pengertian entrepreneur adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumber daya seperti finansial (money), bahan mentah (material), dan tenaga kerja (labors), untuk menghasilkan suatu produk baru, bisnis baru, proses produksi, atau pengembangan organisasi usaha (Marzuki Usman, 1997:14). Entrepreneur adalah seorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur (elemen-elemen) internal yang meliputi kombinasi motivasi, misi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang.

Menurut Zimmerer (2004:3), seorang wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidak pastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dangan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya.

Dun Steinhoff dan Burgess dalam Suryana (2003:6), mendefinisikan wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola, dan berani mengambil risiko untuk mencapai usaha baru dan peluang berusaha.

“A person who organizes, manages and assumes the risk of a business or enterprise is an entrepreneur. Entrepreneur is individual who risks financial, material, and human resources a new way to create a new business concept or opportunities within an existing firm”

Meredith (2000:3), berwirausaha berarti memadukan perwatakan pribadi, keuangan dan sumber daya, oleh karena itu menjadi wirausaha berarti memiliki kemampuan menemukan dan mengevaluasi peluang-peluang, berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan, menyukai tantangan dengan risiko moderat, mempunyai sifat kepemimpinan, fleksibel, imajinatif, mampu merencanakan, mampu mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan.

Longenecker (2001:4), wirausaha adalah seorang pembuat keputusan, inovatif, memilki kemampuan untuk mengambil risiko, membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Yuyun Wirasasmita (1994:2), menyatakan bahwa seorang wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan ketimbang usaha yang tidak menantang. Oleh sebab itu wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah atau yang terlalu tinggi. Risiko yang terlalu rendah akan memperoleh sukses yang relatif rendah. Sebaliknya, risiko yang tinggi kemungkinan memperoleh sukses yang tinggi, tetapi dengan kegagalan yang tinggi.

Selain istilah entrepreneur atau wirausaha yang beperan sebagai pemilik (owner) bisnisnya, masih ada istilah intrapreneur. Intrapreneur adalah pekerja, karyawan, manajer yang memiliki semangat kewirausahaan. Dengan kata lain intrapreneur merupakan wirausaha yang ada dalam lingkungan perusahaan. Intrapreneur sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan perusahnaan dalam hal upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Untuk membentuk intrapreneur banyak perusahaan yang melakukan program pelatihan intrepreneurship, untuk tetap mempertahankan semangat kreativitas dan inovasi dalam diri karyawan. (Rambat Lupiyoadi, 2004).

1.1.2. Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa inggris. Kata entrepreneurship sendiri berawal dari bahasa perancis yaitu entreprende yang berarti petualang, pencipta dan pengelola usaha. Istilah tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantilon (1755). Istilah ini makin populer setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B Say (1803) untuk menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan menghasilkan lebih banyak lagi. Entrepreneurship juga dapat diartikan sebagai ”the backbone of economy”, yaitu syaraf pusat perekonomian atau “tailbone of economic”, yaitu pengendali ekonomi suatu bangsa (Soeharto Prawirakusumo 1997:1).

Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start- up phase) atau suatu proses dalam mengerjakan suatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (inovative).

Hisrich-Peter (2005:535) menyatakan: Intrapreneurship is one method for stimulating and then capitalizing on individual in an organization who think that something can be done differently and better. Menurutnya kewirausahaan adalah suatu metoda mengstimulasi individu di dalam organisasi yang mempunyai pemikiran bahwa dia dapat melakukan sesuatu yang tampil beda dan hasil yang lebih baik.

Zimmerer (1996:51) dalam Suryana (2003:4), Entrepreneurship is applying creativity and innovation to solve the problem and to exploit opportunities the people face everyday. Menurutnya kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, keinovasian, dan keberanian menghadapi risiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru. Kretivitas, oleh Zimmerer diartikan sebagi kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang (“creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities”). Sedangkan keinovasian diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan taraf hidup (“Inovation is the ability to apply creative solutions to those problems and opportunities to enhance or to enrich people’s live”). Kretivitas adalah “thingking new thing” (berpikir sesuatu yang baru), sedangkan keinovasian adalah “doing new thing” (melakukan sesuatu yang baru). Keberhasilan wirausaha akan tercapai apabila berpikir dan melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama yang dilakukan dengan cara yang baru. Menurut Zimmerer, ide kreatif akan muncul apabila wirausaha melihat sesuatu yang lama dan memikirkan sesuatu yang baru atau berbeda (“look at something old and thinksomething new or different”)

Drucker (1996:20) menyatakan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan suatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).

Kao (1996) dalam Rambat Lupiyoadi (2004:3) , menyebut kewirausahaan sebagai suatu proses. Yakni proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi baru) dan membuat seuatu yang berbeda dari yang sudah ada (inovasi), tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan individu dan nilai tambah bagi masyarakat. Sedangkan wirausaha mengacu pada orang yang melaksanakan proses penciptaan kesejahteraan atau kekayaan dan nilai tambah, melalui peneloran dan penetasan gagasan, memadukan sumber daya dan merealisasikan gagasan tersebut menjadi kenyataan.

“entrepreneurship is the process of doing something new (creative) and something different (innovative) for the purpose of creating wealth for the individual adding value to society. An entrepreneur is a person who undertakes a wealth creating and value-adding process, through incubating ideas assembling resources and making things happen”.

Zimmerer (2004:4), mengidentifikasi ciri-ciri wirausaha yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan adalah: (1) menyukai tanggung jawab, (2) lebih menyukai risiko menengah, (3) keyakinan atas kemampuan mereka untuk berhasil, (4) hasrat untuk mendapatkan umpan balik langsung, (5) tingkat energi yang tinggi, (6) orientasi kedepan, (7) keterampilan mengorganisasi, (8) menilai prestasi lebih tinggi dari pada uang.

Seorang pakar entrepreneurship Gordon Pinchot menyatakan, para individu tidak perlu melaksanakan hal-hal besar (big thing) agar pencapaian hasil kumulatif mereka akhirnya menyebabkan munculnya kinerja hebat bagi perusahaan dimana mereka bekerja, mereka jarang sekali merupakan para penemu (inventors) dari produk atau sistem yang menjadi “pendubrak perubahan” mereka juga jarang sekali melakukan sesuatu tindakan yang bersifat unik secara total, yang belum pernah dipikirkan oleh pihak lain di dalam organisasi yang bersangkutan. ( Pinchot 1985: 25). Pinchot, pendiri mazhab intrapreneur merumuskan para intrapreneur sebagai “setiap orang di antara pemimpi (dreamers) yang melaksanakan”. Mereka yang menerima tanggung jawab langsung guna menciptakan sesuatu inovasi di dalam sebuah organisasi, mungkin intrapreneur merupakan pencipta atau inovator, tetapi ia senantiasa merupakan seorang pemimpi yang mengalihkan sebuah ide menjadi sebuah realitas yang menguntungkan.

( Pinchot 1985: 27), agar supaya intrapreneurship dapat berkembang di dalam sebuah organisasi besar, perlu terdapat lima macam “faktor kebebasan” sebagai berikut:

1. Seleksi diri

Perusahaan-perusahaan harus memberikan peluang kepada para inovator untuk mengemukakan ide-ide mereka, dan bukan menjadikan tanggung jawab untuk menghasilkan ide-ide baru, tanggung jawab yang ditugaskan kepada para individu atau kelompok.

2. Jangan ide yang diciptakan di tengah jalan, diserahkan kepada pihak lain (no-hand offs).

Setelah ide-ide muncul, para manajer harus membiarkan orang-orang yang menciptakan ide tersebut, melanjutkannya (menerapkannya) dan jangan menginstruksikannya untuk menyerahkan ide tersebut kepada pihak lain.

3. Pihak yang melakukanlah yang mengambil keputusan.

Kepada pihak yang memunculkan ide, perlu diberikan kebebasan tertentu untuk mengambil keputusan tentang pengembangan dan implementasi ide tersebut.

4. Perlu diciptakan apa yang dinamakan waktu untuk membantu penciptaan inovasi (corporate “slack”) atau perusahaan-perusahaan yang menyediakan dana dan waktu (“slack”) memfasilitasi inovasi.

5. Akhirnya falsafah penemuan “akbar” (end the “bome-run”philosophy)

Pada beberapa perusahaan, terlihat gejala bahwa pimpinan puncaknya hanya berminat terhadap ide-ide inovatif, yang dapat menciptakan hasil-hasil luar biasa (major breakthroughs). Dalam kultur demikian intrapreneurship dikekang.

Salim Siagian, (1999:6), menyatakan kewirausahaan adalah semangat, perilaku dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang. Memperoleh keuntungan untuk diri sendiri atau pelayanan yang baik pada pelanggan /masyarakat, dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih baik serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien melalui keberanian mengambil risiko, kreatifitas dan inovasi serta kemampuan manajemen.

Ahmad Rouzni Noor (1994:26), mengatakan kewirausahaan adalah seseorang yang memiliki keahlian inovasi dan kreasi serta kekuatan imajinasi yang berorientasi kepada sasaran dan masa depan dengan kemampuan kepemimpinannya berkeyakinan berhasil dan siap menanggung risiko.

Röpke (1995:49), menyatakan bahwa kinerja kewirausahaan merupakan fungsi insentif sebagai implementasi dari penghargaan sosial atau hak bertindak, kemampuan dan lingkungan eksternal, kemampuan berkaitan langsung dengan faktor diri antara lain kreativitas, inisiatif dan kepercayaan diri. Sementara Rully Indrawan (2004:105), Sikap wirausaha adalah kesediaan mental seseorang untuk merespon baik positif, negatif maupun netral terhadap suatu peluang usaha. Sedangkan sikap yang harus ada dalam jiwa seorang wirausaha adalah kreativitas, inisiatif, dan percaya diri.

1.1.3. Karakteristik /Sifat Wirausaha

Ada beberapa sifat dasar kemampuan yang biasanya ada pada diri seorang wirausaha. Meredith (2000 :5), mengemukakan bahwa seorang wirausaha memiliki ciri-ciri/ karakteristik seperti yang tercantum dalam Tabel 1.1. berikut.

Tabel 2.2

Karakteristik Kewirausahaan.

No.

Ciri-Ciri

Watak

1

Percaya diri

Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, optimisme

2

Berorientasikan tugas dan hasil

Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekat kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetic, dan inisiatif

3

Pengambilan risiko

Kemampuan mengambil risiko, suka pada tantangan.

4

Kepemimpinan

Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bekerja sama dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik.

5

Keorisinilan

Inovatif dan kreatif, fleksibel, punya banyak sumber, serba bisa, mengetahui banyak hal.

6

Orientasi masa depan

Pandangan kedepan, perseptif.

Sumber : Geoffrey G. Meredith, 2000:5

Pengertian dan ciri-ciri kewirausahaan tersebut adalah sebagai berikut (Geoffrey G. Meredeth, 2000):

1. Percaya diri

Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas dan pekerjaan (soesarsono Wijandi, 1988). Dalam praktek sikap dan kepercayaan diri ini merupakan sikap dan kepercayaan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang dihadapi. Oleh karena itu kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimisme, individualitas dan ketidak tergantungan.

2. Berorientasi tugas dan hasil

Seseortang yang selalu mengutamakan adalah orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif prestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energic dan berinisiatif.

3. Keberanian mengambil risiko.

Keberanian dalam mengambil risiko adalah kemampuan dalam mengambil risiko dan suka pada tantangan. Untuk mencapai kesuksesan dan menghadapi kegagalan, seorang wirausaha harus berani mengambil risiko dan menghadapi segala tantangan.

4. Kepemimpinan.

Kepemimpinan adalah suatu sikap yang terlihat dalam diri wirausahawan terhadap pencapaian tugas-tugasnya, dapat bekerja sama dengan orang lain dan mau menerima saran dan kritik dari orang lain.

5. Keorisinilan

Keorisinilan terdiri dari kreativitas dan keinofasian. Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir yang baru dan berbeda sedangkan keinofasian adalah kemampuan untuk bertindak yang baru dan berbeda.

6. Berorientasi masa depan

Berorientasi kedepan adalah perspektif selalu mencari peluang, tidak cepat puas denbga keberhasilan dan mempunyai pandangan jauh kedepan.

Menurut Steade et.al (1984), ada lima tingkah laku berkualitas dari wirausaha (5 P):

1. Purposefu yaitu Menetapkan tujuan dan mencapainya.

2. Persuasive yaitu dapat mempengaruhi orang lain untuk membantunya dal;am mencapai tujuan.

3. Persistent yaitu mencapai tujuan secara bertahapwalau kadang melewati masa sulit. Kegagalan dan kekecewaan tidak dapat menghalangi usahanya.

4. Presumptuos yaitu berani bertindak sesuai keinginannya disaat orang lain masih ragu. Berani mengambil risiko yang sudah diperhitungkan dalam menggunakan pendekatan yang inovatif.

5. Perceptive yaitu mampu mengerti kaitan antara serangkaian pilihan dalam pencapaian tujuan.

Dari berbagai pengertian kewirausahaan diatas kita ketahui bahwa wirausaha sangat dibutuhkan dalam pengembangan perekonomian. Tingkat kemajuan perekonomian suatu bangsa sangat tergantung pada jumlah ketersediaan dan kualitas para wirausaha yang ada pada bangsa tersebut. Permasalahannya adalah bagaimana masyarakat mampu mengembangkan kewirausahaan dilingkungannya masing-masing

1.1.4. Sifat Wirausaha adalah hasil proses belajar

Sarasson (1969), menegaskan bahwa karakteristik (sifat) adalah hasil dari proses belajar:

1. Bila seorang individu dewasa sebelumnya yakin bahwa dia dapat dan mampu mengadopsi cara-cara tingkahlaku baru khususnya untuk mengubah kepribadiannya, maka kemungkinan keberhasilannya akan lebih besar.

2. Bila individu dewasa mempersepsikan bahwa perubahan yang harus dilakukan sesuai dengan tuntutan yang wajar dari tujuan yang ia capai, perubahan akan mudah terjadi.

3. Bila individu dewasadapat secara lebih jelas mendapatkan gambaran langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengubah pribadinya, perubahan akan mudah terjadi.

4. Makin mengalami secara nyata seorang individu dewasabahwa perubahan yang ia lakukan memang berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan, maka makin mudah dia untuk mengubah diri.

5. makin mendapatkan pengalaman nyata seorang individu dewasa bahwa perubahan pribadi membawa keberhasilan, makin mudah perubahan terjadi. Perubahan pribadi makin makin terwujud apabila lingkungan si individu menunjang perubahan tadi.

Teori ini membuktikan bahwa siapapun dapat menjadi wirausaha kalau ia mau dan tekun. Ini juga membuktikan tidak ada hambatan yang sifatnya genetik (keturunan) bagi seseorang untuk menjadi seorang wirausaha. McClelland (1966) mengatakan bahwa sifat wirausaha bukanlah terbentuk dari keturunan, namun karena lingkungannya, ia dapat menjadi seorang wirausaha.

Secara spesifik McClelland (1966), menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor khusus dalam pembentukan sifat seorang wirausaha adalah nilai yang ditanamkan oleh keluarga kepada seorang anak, dimana dorongan untuk maju dan berprestasi tanpa tekanan yang berlebihan dapat membentuk sifat-sifat wirausahanya. Hal ini menjelaskan keluarga memilki peranan yang sangat besar bagi pembentukan sifat wirausaha seseorang.

1.1.5. Faktor-faktor Motivasi Wirausaha

Banyak faktor yang dapat memptivasi seseorang menjadi wirausaha, salah satu kunci untuk dapat mengetahui faktor tersebut adalah dengan memahami apa yang orang butuhkan. Orang dapat dimotivasi oleh apa saja, tetapi tidak semuanya dimotivasi oleh sesuatu yang sama.

Keunggulan orang jepang dalam berwirausaha adalah motivasi yang tidak saja oleh faktor-faktor yang menguntungkan (fortunately) tetapi juga faktor yang tidak menguntungkan sehingga memaksa mereka untuk bekerja keras. Faktor motivasi bagi orang jepang tidak hanya financial gain tapi juga karena kehawatiran orang jepang akan kelestariannya.

Menurut Russell M. Knight (1983), dalam studinya di Kanada motivasi seorang wirausaha tidak hanya financial incentive , tetapi oleh keinginan untuk melepaskan diri dari lingkungan yang tidak sesuai, disamping guna menemukan arti baru bagi kehidupannya. Faktor motivasi tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

1. The forign refugee. Peluang-peluang ekonomi dinegara lain yang lebih menguntungkan sering kali mendorong orang untuk meninggalkan negaranya yang tidak stabil secara politis untuk berwirausaha disana.

2. The corporate refugee. Pekerja-pekerja yang tidak puas dengan lingkungan perusahaannya merasa bahwa kepuasan kerjanya akan meningkat dengan memolai dan menjalankan bisnis sendiri.

3. The parental (paternal) refugee. Banyak individu yang memperoleh pendididkan dan pengalaman dari bisnis yang dibangun oleh keluarganya sejak ia masih anak-anak. Mereka biasanya akan berusaha untuk mencoba bisnis lain daripada yang selama ini dikerjakan oleh keluarga.

4. The feminist refugee. Para wanita yang merasa telah mendapatkan perlakuan diskriminatif dibandingkan kaum pria, baik dalam sistem pendidikan, lingukngan perusahaan, maupun dalam masyarakat, akan berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu. Caranya dengan mendirikan sendiri perusahaan.

5. The housewife refugee. Para ibu rumah tangga yang pada awalnya sibuk mengurus rumah tangganya mencoba membantu suaminya dalam keuangan karena kebutuhan-kebutuhan anak-anak yang makin dewasa makin besar. Mereka biasanya akan mencoba bisnis kecil-kecilan dengan dibantu oleh anggota keluarga lainnya.

6. The society refugee. Anggota masyarakat yang tidak setuju dengan kondisi lingkungannya biasanya akan mencoba usaha yang tidak terikat dengan lingkungan yang ada.

7. The educational refugee. Banyak orang yang gagal dalam studinya atau mereka yang tidak cocok dengan sistem pendidikan yang ada menjadi terpacu untuk berwirausaha.

1.2. Sejarah Kewirausahaan

Sejarah kewirausahaan dapat dibagi dalam beberapa periode:

1. Periode awal

Sejarah kewirausahaan dimulai dari periode awal yang dimotori oleh Marcopolo. Dalam masanya, terdapat dua pihak yakni pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal dan mereka mengambil keuntungan yang sangat banyak terhadap pihak aktif. Sedangkan pihak aktif adalah pihak yang menggunakan modal tersebut untuk berdagang antara lain dengan mengelilingi lautan. Mereka menghadapi banyak resiko baik fisik maupun sosial akan tetapi keuntungan yang diperoleh sebesar 25%.

2. Abad pertengahan

Kewirausahaan berkembang di periode pertengahan, pada masa ini wirausahawan dilekatkan pada aktor dan seorang yang mengatur proyek besar.

Mereka tidak lagi berhadapan dengan resiko namun mereka menggunakan sumber daya yang diberikan, yang biasanya yang diberikan oleh pemerintah. Tipe wirausahaawan yang menonjol antara lain orang yang bekerja dalam bidang arsitektural.

3. Abad 17

Di abad 17, seorang ekonom, Richard Cantillon, menegaskan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dengan melihat perilaku mereka yakni membeli pada harga yang tetap namun menjual dengan harga yang tidak pasti. Ketidakpastian inilah yang disebut dengan menghadapi resiko.

4. Abad 18

Berlanjut di abad ke 18, seorang wirausahawan tidak dilekatkan pada pemilik modal, tetapi dilekatkan pada orang-orang yang membutuhkan modal. Wirausahawan akan membutuhkan dana untuk memajukan dan mewujudkan inovasinya. Pada masa itu dibedakan antara pemilik modal dan wirausahawan sebagai seorang penemu.

5. Abad 19

Sedangkan di abad ke 19 dan 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal.

6. Abad 10

Pada abad 20, inovasi melekat erat pada wirausahawan di masa sekarang.

BAB II

KEWIRAUSAHAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

2.1. Allah Telah Memberikan Segalanya kepada Manusia

Bekerja dan berusaha (berwirausaha) merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh dimaksudkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya kearah yang lebih baik (QS. 11/Hud: 61). Sebagai khalifah fil-ardh Allah telah memberikan semua fasilitas berupa sumber daya (resources) berupa sumberdaya alam (SDA), dan potensi sumber daya manusia (SDM). Allah telah melimpahkan SDA yang tidak terbatas yang semuanya itu untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahman, Allah telah menciptakan SDA semuanya, sampai-sampai dari 78 ayat ada 30 ayat yang menanyakan kepada manusia;

“maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Demikian halnya Allah telah memberikan potensi kesempurnaan SDM dibandingkan mahluk Allah yang lain, Filosof Islam Al-Ghozali memandang bahwa manusia yang dilahirkan di dalam dirinya telah dikaruniai potensi, potensi-potensi terkumpul dalam satu kesatuan yang disebut fitrah, ada tiga fitrah /potensi:

1. Intlektual (Quwwat al-’aqli), yang berfungsi untuk mengenal, mengesakan, dan mencintai Allah.

2. Defensif (quwwat al-gadlab), yang berfungsi mempertahankan diri dari segala yang mengganggunya.

3. Syahwat, yang berfungsi untuk menginduksi obyek-obyek yang memberi manfaat dan menyenangkan.

Ketiga potensi (fitrah) yang bersifat inheren diatas harus dipandu oleh potensi yang dari luar dirinya yaitu fitrah munazzalah sehingga potensi atau kualitas manusia akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu; al-nafs al-mutmainah, al nafs al-lawamah, al nafs al-amarah sebagai bekal manusia sebagai khalifah.

2.2. Berusaha Bagian Integral dari Kehidupan

Sebagai agama yang menekankan dengan kuat sekali tentang pentingnya keberdayaan ummatnya, maka Islam memandang bahwa berusaha atau berwirausaha merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Terdapat sejumlah ayat dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan pentingnya aktifitas berusaha itu. Di antaranya : Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah di muka bumi. Dan carilah karunia Allah ( QS Al Jumuah : 10 ). Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta – minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak. ( HR Bukhari). Pernah suatu saat Rasulullah ditanya oleh para sahabat, “pekerjaan apa yang paling baik ya Rasulullah ? Rasulullah menjawab, seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih. ( HR Al Bazzar ) Pedagang yang jujur lagi terpercaya adalah bersama–sama Nabi, orang–orang shadiqin, dan para syuhada ( HR Tirmidzi dan Ibnu Majah ). Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki ( HR Ahmad ). Hadis–hadis di atas memperlihatkan bagaimana kewirausahaan merupakan aktifitas yang inhern dalam ajaran Islam. Sedemikian strategisnya kedudukan kewirausahaan dan perdagangan dalam Islam, hingga teologi Islam itu dapat disebutkan sebagai “teologi perdagangan” ( commercial theology ). Hal tersebut dapat dilihat dalam kenmyataan bahwa : Hubungan timbal balik antara Tuhan dan manusia bersifat perdagangan betul, Allah adalah Saudagar sempurna. Ia ( Allah ) memasukkan seluruh alam semesta dalam pembukuan-Nya. Segalanya diperhitungkan, tiap barang diukur. Ia telah membuat buku perhitungan, neraca-neraca, dan Ia ( Allah ) telah menjadi contoh buat bisnis-bisnis yang jujur. Pengembangan kewirausahaan di kalangan masyarakat Indonesia memiliki manfaat yang terkait langsung dengan pengembangan masyarakat. Manfaat tersebut antara lain: Pertama, pengembangan kewirausahaan akan memberikan konstribusi yang besar bagi perluasan lapangan kerja, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Kedua, berkembangnya kewirausahaan akan meningkatkan kekuatan ekonomi negara. Telah terbukti dalam sejarah perjalanan bangsa kita, bahwa UKM adalah basis ekonomi yang paling tahan menghadapi goncangan krisis yang bersifat multidimensional. Ketiga, dengan semakin banyaknya wirausahawan, termasuk wirausahawan muslim, akan semakin banyak tauladan dalam mayarakat, khususnya dalam aktifitas perdagangan. Sebab, para wirausahawan memiliki pribadi yang unggul, berani, independen, hidup tidak merugikan orang lain, sebaliknya malah memberikan manfaat bagi anggota masyarakat yang lain. Keempat, dengan berkembangnya kewirausahaan, maka akan menumbuhkan etos kerja dan kehidupoan yang dinamis, serta semakin banyaknya partisipasi masyarakat terhadap pembangunan bangsa.

2.3. Sifat – Sifat Dasar wirausaha Muslim

Sebagai konsekuensi pentingnya kegiatan wirausaha, Islam menekankan pentingnya pembangunan dan penegakkan budaya kewirausahaan dalam kehidupan setiap muslim. Budaya kewirausahaan muslim itu bersifat manusiawi dan religius, berbeda dengan budaya profesi lainnya yang tidak menjadikan pertimbangan agama sebagai landasan kerjanya. Dengan demikian seorang wirausahawan muslim akan memiliki sifat–sifat dasar yang mendorongnya untuk menjadi pribadi yang kreatif dan handal dalam menjalankan usahanya atau menjalankan aktivitas pada perusahaan tempatnya bekerja. Sifat–sifat dasar itu di antaranya ialah; Selalu menyukai dan menyadari adanya ketetapan dan perubahan. Ketetapan ditemukan antara lain pada konsep aqidah ( QS. Al Anbiya : 125 ). Sedangkan perubahan dilaksanakan pada masalah–masalah muamalah, termasuk peningkatan kualitas kehidupan (QS al Ra’d : 11 ). Bersifat inovatif, yang membedakannya dengan orang lain.

Al Quran menempatkan manusia sebagai khalifah, dengan tugas memakmurkan bumi, dan melakukan perubahan serta perbaikan ( al Hadis ). Berupaya secara sungguh– sungguh untuk bermanfaat bagi orang lain. Ada beberapa hadis Nabi yang menjelaskan keharusan seseorang untuk bermanfaat bagi orang lain.
1. Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain ( al Hadis )
2. Siapa yang membantu seseorang untuk menyelesaikan kesulitan didunia, niscaya

Allah akan melepaskannya dari kesulitan di hari kemudian ( al Hadis).

3. Siapa yang menyayangi seseorang di dunia, maka Yang Di Langit akan menyayangi (Al- Hadits).

4. Tidak disebut seseorang itu beriman sebelum ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri ( al Hadis).

Bermanfaat bagi orang lain dibangun secara berkelanjutan. Bukan hanya untuk sesaat atau untuk dirinya sendiri atau orang sezamannya, tetapi untuk jangka waktu yang lebih panjang dan bagi generasi – generasi sesudahnya. Bukan hanya diusahakan berjalan baik pada masanya, tetapi juga sesudahnya. Tegasnya, dibutuhkan pelembagaan bagi sistem kerjanya. Banyak hadist dan ayat – ayat yang memberikan bimbingan dalam hal ini. Di antaranya : Bekerjalah kamu untuk dunia seolah – olah engkau hidup selama – lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat, seolah olah kamu akan mati esok hari ( al Hadis ). Sekiranya kamu tahu bahwa engkau akan mati esok hari, silakan kamu menanam kurma hari ini ( al Hadis ). Hendaklah merasa kawatir orang–orang yang meninggalkan keturunannya berada dalam keadaan lemah, kawatir akan masa depan mereka (QS. Anisa’:9).

2.4. Integritas Wirausahawan Muslim

Keberhasilan seorang wirausahawan muslim bersifat independen. Artinya keunggulannya berpusat pada integritas pribadinya, bukan dari luar dirinya. Hal ini selain menimbulkan kehandalan menghadapi tantangan,juga merupakan garansi tidak terjebak dalam praktek – praktek negarif dan bertentangan dengan peraturan, baik peraturan negara maupun peraturan agama. Integritas wirausahawan muslim tersebut terlihat dalam sifat-ifatnya, antara lain:

1. Taqwa, tawakal, zikir dan bersyukur

Seorang wirausahawan muslim memiliki keyakinan yang kukuh terhadap kebenaran agamanya sebagai jalan keselamatan, dan bahwa dengan agamanya ia akan menjadi unggul. Keyakinan ini membuatnya melakukan usaha dan kerja sebagai dzikir dan bertawakal serta bersyukur pasca usahanya.

2. Motivasinya bersifat vertical dan horisontal

Motivasi wirausahawan muslim bersifat vertical dan horizontal. Secara horizontal terlihat pada dorongannya untuk mengembangkan potensi dirinya dan keinginannya untuk selalu mencari manfaat sebesar mungkin bagi orang lain. Sementara secara vertical dimaksudkan untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Motivasi di sini berfungsi sebagai pendorong, penentu arah dan penetapan skala prioritas. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa nilai suatu pekerjaan dilihat dari kualitas niatnya sendiri ( al Hadis ). Orang harus bekerja untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan keluarganya serta untuk orang lain.

3. Niat Suci dan Ibadah

Islam menekankan bahwa keberadaan manusia di dunia adalah untuk mengabdikan diri kepada-Nya ( QS. Al Dzariyat: 56 ). Bagi seorang muslim, menjalankan usaha merupakan aktifitas ibadah sehingga ia harus dimulai dengan niat yang suci ( lillahi ta’ala ), cara yang benar, dan tujuan serta pemanfaatan hasil secara benar. Sebab dengan itulah ia memperoleh garansi keberhasilan dari Tuhan. 4. Memandang Status dan profesi sebagai amanah Seorang wirausahawan muslim senantiasa menyadari bahwa statusnya atau profesinya sebagai amanah. Karena itu, keberadaannya dalam tugas dan jabatan apapun selalu digunakan untuk mencapai penunaian amanah itu (QS Al-Mukmin : 8)

5. Aktualisasi diri untuk melayani

Wirausahawan muslim senantiasa berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya, melayaninya ( antum a’lamu bi umiri dunyakum ), melayani konumen atau orang – orang yang menaruh harapan kepadanya atau kerjanya. Berusaha selalu memberikan pelayanan yang baik kepada orang atau lembaga yang berusaha membantu atau memajukan usahanya. Semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa, apa yang dilakukan sebagai pengabdian kepada Yang Maha Menentukan baik semuanya, yakni Allah SWT.

6. Mengembangkan Jiwa Bebas Merdeka

Bagi wirausahawan muslim, perlu memiliki jiwa bebas-merdeka. Baginya rahmat Tuhan dan rezeki-Nya sangat tidak terbatas sehingga cara dan upaya untuk mencapainya sangat luas pula. Perasaan ini membuatnya menjadi agak tampak tak merasa terikat dengan system yang ada. Namun kebebasannya selalu didasari pada patok –patok atau filosofi dan nilai – nilai yang dianggapnya benar.

7. Azam Bangun Lebih Pagi

Rasulullah mengajarkan kepada kita agar mulai bekerja sejak pagi hari. Setelah sholat Subuh, kalau tidak terpaksa, sebaiknya jangan tidur lagi. Bergeraklah untuk mencari rezeki dari Rab-mu. Para malaikat akan turun dan membagi rezeki sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

8. Selalu berusaha Meningkatkan lmu dan Ketrampilan

Ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dua pilar bagi pelaksanaan suatu usaha. Oleh karenanya, memenej perusahaan berdasarkan ilmu dan ketrampilan di atas landasan iman dan ketaqwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang wirausahawan.

9. Semangat Hijrah

Seorang wirausahawan muslim perlu memiliki semangat hijrah. Hijrah merupakan salah satu strategi Nabi Muhammad, yang pantas diteladani dan sangat cocok untuk diterapkan dalam dunia bisnis. Makna hijrah ini bukan hanya berarti kepindahan fisik semata, namun juga bermakna meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menalankan perintah-Nya. Hijrah ( dalam arti fisik dan spiritual ) dalam berbisnis akan mendatangkan semangat baru, bahkan juga peluang baru yang tidak diduga sebelumnya.

10. Keberanian Memulai

Keberanian seringkali bukan merupakan bawaan lahir. Sebab, setiap orang dapat mengembangkan keberaniannya, dan bila dilakukan secara sungguh – sungguh keberanian tersebut akan berkembang dan berdayaguna. Bill Gates merupakan salah satu contoh yang baik dalam hal ini. Sebab dalam usia 19 tahun ia memilih keluar dari kuliahnya di Harvard Business School dan memilih terjun ke dunia usaha atau mejadi wirausahawan. Akhirnya keberanian tersebut mengantarkannya pada suatu keberhasilan yang tercatat alam sejarah kewirausahaan dunia.

11. Memulai Usaha dengan Modal Sendiri Walaupun Kecil

Banyak orang berpendapat, uang adalah modal utama usaha dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup/besar. Pandangan ini tidak mutlak salah namun juga belum tentu benar. Memang uang diperlukan sebagai modal usaha, tapi bukan satu – satunya, dan jumlahnyapun tidak selalu harus besar. Ada modal lain yang juga dangat penting, yaitu semangat, kesungguhan dan karakter serta keahlian/ketrampilan. Banyak contoh, mereka yang semula hanya “bermodal dengkul”, namun didukung dengan kesungguhan dan kerja keras dan kecerdasannya akhirnya bisa meraih sukses. Memulai usaha dengan modal sendiri meskipun kecil, apalagi kalau modal itu diperoleh dari hasil keringat sendiri ( bukan dari warisan apalagi meminta – minta ), merupakan awal yang baik untuk meraih sukses.

12. Sesuai Bakat

Setiap manusia dikarunia Allah kelebihan dan kekurangan. Kelebihan atau potensi dalam diri seseorang dapat dikembangkan atau dimenej untuk mencari rezek. Usaha yang dirintis dari hobby atau potensi/ketrampilan yanga ada dalam dirinya akan lebih berpeluang untuk sukses. Sebab ia akan selalu bersemangat, pekerjaannya menyenangkan, sehingga ia akan mencintainya. Hampir semua pengusaha yang sukses memulai usahanya dari sesuatu yang dicintai dan potensi yang ada dalam dirinya.

13. Jujur

Kejujuran merupakan salah satu kata kunci dalam kesuksesan seorang wirausahawan. Sebab suatu usaha tidak akan bisa berkembang sendiri tanpa ada kaitan dengan orang lain. Sementara kesuksesan dan kelanggengan hubungan dengan orang lain atau pihak lain, sangat ditentukan oleh kejujuran keduabelah pihak. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “Kejujuran akan membawa ketenangan sementara ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.” (HR Turmudzi)

14. Suka Menyambung Tali Silaturahmi

Seorang wirausahawan haruslah sering melakukan silaturahmi dengan mitra bisnis dan bahkan juga dengan konsumennya. Hal ini harus merupakan bagian dari integritas seorang wirausahawan muslim. Sebab dalam perfektif Islam, silaturahmi selain meningkatkan ikatan persaudaraan juga akan membuka peluang-peluang bisnis baru. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW : “Siapa yang ingin murah rezekinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturahmi ( HR. Bukhari)

15. Memiliki Komitmen Pada Pemberdayaan

Menurut perspektif Islam keberhasilan seseorang dalam usahanya bukanlah mutlak merupakan hasil kerjanya, melainkan merupakan kerja kolektif sejumlah manusia yang terkait dengannya. Oleh karenanya Islam menekankan sekali pentingnya komitmen pemberdayaan. Sedemikian pentingnya, sehingga menurut Islam, dalam harta seseorang selalu terdapat hak – hak orang miskin ( QS 51/Al Dzariyat : 19 ). Komitmen pada pemberdayaan memiliki arti luas, dan pelaksanaannya merupakan bagian dari tanggungjawab social pengusaha.

16. Menunaikan Zakat, Infaq dan Sadaqah ( ZIS )

Menunaikan zakat, infaq dan sadaqah harus menjadi budaya wirausahawan muslim. Menurut Islam sudah jelas, harta yang digunakan untuk membayar ZIS, tidak akan hilang, bahkan menjadi tabungan kita yang akan dilpatgandakan oleh Allah, di dunia dan di akhirat kelak. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah bagai sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada tiap tangkai itu berbuah seratus bijih dan Allah melipatgandakan ( pahala) bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang luas lagi Maha Mengetahui ( QS 2/Al Baqarah : 261 ) Dalam ayat lain Allah berfirman : ( yaitu ) orang – orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang – orang yang beriman dengan sebenar – benarnya. Mereka akan memperoleh derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki ( nikmat ) yang mulia. ( QS Al Anfal : 3-4 ). Pengertian sebagian dari rezeki, sebagaimana ayat di atas, idealnya adalah sekitar 35 persen. Karena itu, bagi wirausahawan muslim, nilai ZIS yang dibayarkan semestinya tidak kurang dari 10%.

17. Puasa Sunat

Hubungan antara bisnis dan keluarga ibarat dua sisi mata uang sehingga satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Sebagai seorang entrepreneur, disamping menjadi pemimpin di perusahaannnya dia juga menjadi pemimpin di rumah tangganya. Membiasakan keluarga , istri, anak, untuk melaksanakan puasa-puasa sunat ( puasa senin-kamis, puasa hari besar, dsb), bahkan mewajibkannya ( untuk keluarga ) merupakan usaha yang sangat mulia dan akan sangat mendukung usaha.

18. Shalat Sunat

Shalat-shalat sunat seperti, shalat sunat wudhu, rawatib, tahajud, witir, fajar dan shalat sunat dhuha juga sangat penting dilaksanakan sehingga suasana keluarga akan terasa sejuk dan selalu dalam suasana agama. Mewajibkan shalat-shalat tersebut ( untuk keluarga) merupakan jalan terbaik sehingga doa keluarga yang dalam suasana agama tentu akan didengar Allah SWT.

19. Shalat Malam

Allah telah memerintahkan kepada nabinya agar menjalankan shalat malam itu sebagaimana firmannya : “ Dan sebagian malam itu gunakanlah untuk bertahajud sebagai shalat sunat bagimu, semoga Tuhanmu akan membangkitkan pada kedudukan yang terpuji”

20. Mengasuh Anak Yatim

“Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” ( QS. Al Ma’un : 1-3 ) Sebagai pengusaha, mengasuh anak yatim merupakan kewajiban. Mengasuh atau memelihara dalam arti memberikan kasih sayang dan nafkah ( makan, sandang, papan dan biaya pendidikan ). Lebih baik lagi bila juga kita berikan bekal ( ilmu/agama/ketrampilan) sehingga mereka akan mampu mandiri menjalani kehidupan di kemudian hari.

21. Memampukan Orang Miskin

Allah SWT telah mewahyukan kepada Daud a.s. : “Kelak pada hari kiamat akan datang seorang hamba menghadapKu dengan membawa bekal amal kebajikan, maka pasti Aku serahkan segala kenikmatan sorga kepadanya. Daud berkata :”Ya Rabbi, siapakah hamba itu ?” Allah menjawab : “ Yaitu orang mukmin yang berusaha memenuhi keperluan sesamanya sampai berhasil ataupun tidak berhasil.” ( HR Al Khathib & Ibnu Asakir yang bersumber dari Ali ra ). Pepatah mengatakan, “Kalau kita menanam padi, maka rumput akan tumbuh, tetapi kalau kita menanam rumput, padi tidak akan tumbuh.” Memampukan orang miskin adalah pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah dan merupakan tabungan kita untuk akhirat. Kalau kita menabung untuk akhirat ( padi ), maka dunia otomatis bisa diraih. Jadi dengan kata lain, kalau kita ingin dikayakan oleh Allah maka kita harus mau dan berani mengayakan orang lain. Atau, dengan jalan memampukan orang miskin.

22. Mengembangkan Sikap Toleransi

Toleransi, tenggang rasa, tepo sliro ( Jawa ) lamak diawak katuju diurang ( Minang ) merupakan sikap yang penting dimiliki wirausahawan. Dengan demikian, tampak orang bisnis itu supel, mudah bergaul, fleksibel, pandai melihat situasi dan kondisi, teguh memegang prinsip namun tidak kaku dalam berhubungan dengan pihak lain ( termasuk dengan pelanggannya).

23. Bersedia Mengakui Kesalahan dan Suka Bertaubat

Kesalahan dan kegagalan bagi wirausahawan muslim merupakan hal berharga dan bisa menjadi guru di kemudian hari. Dari situ ia akan selalu melakukan oreksi dan intropeksi diri, tanpa harus diketahui publik. Pengakuan terhadap kesalahan atau kegagalan merupakan bagian dari perubahan sikap ( taubat ). Sementara itu mengungkap aib orang lain tetap merupakan perbuatan tercela. Kedua petunjuk ini dilaksanaan dengan enyadari kegagalan tanpa mengeksposenya, sehingga ia dapat melakukan perbaikan ( taubatan nasuha ) oleh dirinya sendiri dan untuk diri serta manusia di sekitarnya. Berdasarkan prinsip itu maka seorang wirausahawan muslim memiliki mental yang tangguh dalam menghadapi segala tantangan (QS al Taubah: 9), dan memiliki keyakinan yang tinggi bahwa ia dapat mengatasi segala tantangan dan kegagalan yang ada (QS.Al Zumar; 53)

2.5. Membentuk Jiwa Kewirausahaan

Kewirausahaan bukan sesuatu yang tidak bisa dibentuk dan dikembangkan, akan tetapai jiwa kewirausahaan bisa dibentuk dengan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman, berikut ini bagan model pembentukan jiwa kewirausahaan.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Competency

- Education

- Training

- Experience

Capability

Productivity

Effectiveness

Efficiency

Quality

=

Daya saing

MOTIVASI

Ekonomi (efisiensi&efektivitas)

Sosial (Kesempatan Kerja)

Psikologis(Bakat)

Komitmen

Berwirausaha

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

BAB III

PELUANG USAHA

Kewirausahaan dalam perspektif ekonomi dapat dijelaskan dari peluang usaha. Titik fokus pertama dalam kegiatan berwirausaha adalah apakah seseorang melihat peluang usaha di sekitarnya. Peluang usaha ini akan dibahas 3 hal yaitu:

1. Dua perspektif besar peluang usaha yaitu Schumpeterian (1934) dan Kiznerian (1973)

2. Tiga sumber utama peluang usaha yaitu perkembangan teknologi, perubahan kebijakan/ politik, dan perubahan sosial/ demografi.

3. Bentuk lain dari peluang usaha seperti organisasi baru, pasar baru, proses bisnis

baru dll.

3.1. Peluang Usaha

Merupakan situasi dimana orang memungkinkan menciptakan kerangka fikir baru dalam rangka menkreasi dan mengkombinasikan sumberdaya, ketika pengusaha merasa yakin terhadap keuntungan yang diperoleh (Shane, 2003). Perbedaan utama antara peluang kewirausahaan dengan situasi yang lain adalah dalam peluang usaha adalah orang mencari keuntungan yang membutuhkan suatu kerangka fikir yang baru dari pada sekedar mengoptimalkan kerangka fikir yang telah ada.

3.1.1. Peluang usaha: Schumpeterian (1934) dan Kiznerian (1973)

Schumpeter (19340 percaya bahwa informasi baru merupakan suatu yang penting dalam menjelaskan eksistensi peluang usaha. Perubahan teknologi, tekanan politik, faktor-faktor lingkungan makro dan kecenderungan sosial dalam menciptakan informasi baru yang dapat digunakan pengusaha untuk mendapatkan dan mengkombinasikan kembali sumber daya dalam bentuk yang lebih bernilai.

Kizner (1973) berpendapat bahwa peluang kewiarusahaan hanya membutuhkancara baru untuk membuat inovasi berdasarkan informasi yang telah tersedia yaitu belief mengenai cara menggunakan sumber daya yang seefisien mungkin.

Table 1. Perbedaan antara peluang Schumpeterian vs Kiznerian

Berdasarkan perbedaan tersebut terlihat bahwa Kiznerian lebih mengutamakan peluang dari sesuatu yang telah mapan (cateris paribus). Informasi yang diperlukan bukan informasi yang bersifat radikal sehingga inovasi yang muncul biasa terjadi. Sangat berlainan dengan Schumpeterian, peluang terjadi dalam situasi etidakseimbangan. Dalam situasi ini, informasi yang didapatkan banyak dan sering kali bersifat radikal. Sifat radikal ini menyebabkan inovasi jarang terjadi karena situasi yang radikal juga jarang terjadi.

3.1.1.1. Sumber Peluang usaha: Schumpeterian (1934)

Ada tiga kategori sumber peluang usaha yaitu; (1) perubahan teknologi, (2) perubahan politik dan kebijakan, (3) perubahan sosial dn demografi, ke tiga sumber ini menunjukkan perubahan dalam membuat perbedaan nilai sumber daya tertentu dan menciptakan keuntungan yang menjanjikan.

1. Perubahan Teknologi

Perubahan teknologi merupakan sumber penting dalam kewirausahaan karena memungkinkan untuk mengalokasikan sumber daya dengan cara yang berbeda dan lebih potensial (Casson, 1995). Faksimili, surat, dan telepon sering digunakan sebelum ditemukannya e-mail. Email ternyata lebih produktif untuk mengirim informasi dibandingkan tipe yang lain. Penemuan internet ini memungkinkan orang membuat kombinasi sumber daya baru yang disebabkan perubahan teknologi. Blau (1978) meneliti wirausahawan mandiri di AS selama dua dekade dan menemukan bahwa perubahan teknologi meningkatkan jumlah wirausahawan mandiri. Demikian juga dengan hasil penelitian Shane (1996) memperlihatkan bahwa jumlah organisasi dari tahun ke 1899 sampai dengan 1988 meningkat seiring dengan meningkatnya perubahan teknologi.

2. Perubahan politik dan kebijakan

Perubahan politik dan kebijakan terkadang menjadi sumber peluang kewirausahaan karena perubahan tersebut memungkinkan rekombinasi sumber daya agar lebih produktif. Beberapa kejadian empiris mendukung argumen bahwa perubahan politik adalah peluang usaha. Delacoxroix dan Carool (1993) meneliti Koran Argentina dari tahun 1800 - 1900 dan Koran Irlandia 1800 – 1925 yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara perubahan politis dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan baru. Bahkan perang pun dapat menjadi peluang usaha dengan menyediakan peralatan perang. Di Indonesia dengan perubahan dalam Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, baik ditingkat nasional, propinsi, dan kaputen/ kota memberikan ruang berwirausaha sablon, percetakan, dll.

Kebijakan juga dapat menumbuhkan minat berwirausaha. Regulasi ini penting karena menyangkut legalitas sebuah perusahaan. Studi yang dilakukan oleh Kelly & Kelly dan Amburgey (1991) menemukan bahwa pertumbuhan airline di Amerika meningkat setelah adanya paket deregulasi airline. Demikian juga di Indonesia, jika jaman orde baru hanya didominasi dengan 2 atau 3 airline, dalam era reformasi ini lebih

dari 10 airline. Sebelum terkena banjir lumpur, Sidoarjo adalah kabupaten yang menerapkan layanan satu atap. Hasilnya memang mampu mendorong iklim usaha karena kemudahan wirausaha mendapatkan ijin usaha. Pengalaman sukses ini telah diadopsi oleh kabupaten yang lain seperti halnya Kota Yogyakarta dan kabupaten Sragen.

3. Perubahan demografi

Struktur demografi mempengaruhi pola usaha. Kita ambil contoh Yogyakarta. Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, juga dikenal sebagai daerah

tujuan bagi pensiunan. Hal ini membawa dampak bagi jenis usaha yang dikembangkan di kota Yogyakarta.

3.1.1.2. Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan adalah sumber peluang usaha karena sebagai pusat penelitian. Hasil-hasil penelitian tersebut menjadi dasar peluang usaha. Zucker dkk (1998) meneliti tentang berdirinya perusahaan bioteknologi. Mereka menemukan bahwa

jumlah ilmuwan dan universitas ternama dalam suatu daerah tersebut meningkatkan stok dan peningkatan jumlah perusahaan bioteknologi. Universitas bergengsi menghasilkan hak paten yang lebih banyak. UGM dengan Research University merupakan salah satu langkah menghasilkan penelitian-penelitian yang dapat menghasilkan paten dan dapat diterima di pasar.

2.2. Bahan Diskusi

Perhatikan jenis usaha yang berkembang di daerah Yogyakarta? Apa saja? Kaitkan jenis usaha tersebut dengan struktur demografi di Yogyakarta.

Disarikan dari Shane, S. 2003. A General Theory of Entrepreneurship.the Individualopportunity

Nexus. USA: Edward Elgar.

Kasus diambil dari Koran Kedaulatan Rakyat, 11 Mei 2005

IKLIM INVESTASI YANG SUSTAINABLE

Meski tahun 2003, dua tahun yang lalu, sudah dicanangkan sebagai Tahun Investasi, namun laporan Bank Dunia menyebutkan, iklim investasi di Indonesia terus memburuk, bahkan masuk kelompok terburuk di dunia. Data menunjukkan, Indonesia berada di urutan ke 138 dari 146 negara yang disurvei terhadap foreign direct investment untuk periode 1998-2000. Dari segi investasi investment risks, Negara ini paling berisiko dibanding Filipina, Korea, Thailand, dan Malaysia. Ada sejumlah masalah yang disorot Bank Dunia. Misalnya, korupsi dan birokrasi yang tidak efisien. Indonesia dinilai sudah menyandang reputasi korup sejak lama, namun sekarang semakin memburuk, yang mengakibatkan biaya tinggi dalam bisnis. Ketika Indonesia dipimpin Soeharto, tulis laporan itu, korupsi terorganisasi. Sehingga bisnis lebih pasti, karena cukup membayar kepada orang yang tepat. Tetapi sekarang, pungutan liar berkembang menjadi lebih acak, yang sulit diperkirakan besarnya. Sementara itu, ada berbagai keluhan dilontarkan pebisnis asing dan domestik yang melakukan ekspansi ke daerah, tetapi mengurungkan investasinya. Menurut penuturannya, ada dua masalah, yakni: persepsi masyarakat yang menganggap pelaku bisnis sebagai rich fat cat, dan regulasi di daerah lewat Perda-Perda yang berorientasi pada peningkatan PAD. Lalu bagaimanakah upaya kita mengeliminir gejala umum desentralisasi itu untuk tidak merambah ke DIY? Sebelumnya marilah kita telusuri dulu hal-hal apa yang menjadi daya tarik bagi calon investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Jawabnya adalah tingkat daya saing yang dimiliki oleh daerah tersebut. Artinya, semakin tinggi tingkat daya saing suatu daerah akan menjadi lokasi pilihan penanaman modal. Selain itu, juga mempersyaratkan tingkat risiko investasi yang rendah, agar memberikan jaminan kelangsungan usaha yang berkelanjutan. Kedua syarat utama itu berhubungan erat dengan pelayanan birokrasi, insentif pajak, harga tanah dan tingkat produktivitas tenaga kerja, ketersediaan SDM dan sumber bahan baku, serta dukungan pra sarana ekonomi. Maka dalam kaitan ini, saya mengajak kepada para Birokrat daerah untuk secara kreatif mencari dan menemukan skema insentif yang kompetitif, sekaligus untuk menaikkan rating daerah, agar calon investor berminat melakukan penanaman modal ke DIY.

Garry Hammer dalam bukunya, “Competing the Future” memaparkan bahawa untuk memenangkan persaingan harus dikembangkan keunggulan kompetensi, baik yang secara alamiah dimiliki oleh suatu Negara atau daerah, maupun hasil kerja keras dan ketekunan yang konsisten dan berkesinambungan dari para Birokrat maupun Usahawannya. Dengan keunggulan kompetensi telah membuat produk industri Jepang tidak dapat digantikan oleh produk Negara lain, yang meski harganya naik pun, tetap saja dibeli konsumen. Terbentuknya daya saing suatu daerah yang berbasis pada kompetensi harus terbuka kesempatan yang luas bagi siapa pun untuk melakukan apa pun yang konstruktif. Setelah itu diperlukan tersedianya pekerja terampil, birokrasi dan politisi profesional yang mampu melahirkan Perda-Perda yang kondusif bagi iklim bisnis dan investasi. Padahal, elite poloitik kita tampaknya cukup tinggi tingkat kompetisinya, namun tingginya tingkat kompetisi itu tidak berbanding lurus dengan tingkat kompetensi Indonesia sebagai bangsa disbanding Negara lain.

Dalam Seminar: Birokrasi Daerah dan Upaya Peningkatan Iklim Bisnis dan Investasi diEra Otonomi” beberapa waktu lalu saya menyatakan, era globalisasi telah menunjukkan situasi dunia yang serba terbuka yang dicirikan oleh adanya hubungan saling ketergantungan. Dalam konteks regional, maka interdependensi antardaerah otonom menjadi suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Interdependensi tersebut pada akhirnya bermuara pada dua kutub yang saling bertolak belakang. Kutub pertama mengarah pada iklim kompetisi antardaerah, seperti dalam perebutan pasar untuk produk-produk unggulan, menarik investasi, perekrutan SDM, serta kompetisi dalam pengelolaan asset-asset potensial milik daerah. Sebaliknya kutub kedua mengarah pada terbentuknya iklim kolaborasi yang memerlukan kerjasama ekonomi antar daerah otonom yang saling berbatasan. Agar dapat merespon secara positif berbagai dinamika dalam iklim ko-operatitif tersebut, yaitu paduan antara kompetisi dan kolaborasi, maka diperlukan suasana pembangunan yang kondusif.

Pertama, adanya kepastian hukum bagi para investor untuk meminimalkan risiko investasi dan berbagai ketidakpastian. Kedua, menurut kapabilitas good govemance, terutama dalam pelayanan bisnis dan investasi. Ketiga, penerapan instrument insentif, baik yang berbasis fiskal, misalnya pengembalian pungutan retribusi atau pajak daerah kepada investor, maupun non-fiskal dalam hal regulasi atau kebijakan khusus. Keempat, menyangkut kemampuan daerah yang berdekatan untuk bekerjasama dalam pengembangan ekonomi regional, sehingga secara sinergis saling menguatkan sesuai prinsip managed competition. Kelima, pembangunan prasarana dan sarana wilayah lintas batas, misalnya pelayanan transportasi yang menjamin efektivitas dan efisiensi mobilitas orang dan barang dari sentra-sentra produksi menuju outletoutletpemasaran, selain itu juga membuka akses wilayah terisolir dan terbelakang. DIY secara keseluruhan kini gencar membangun image sebagai wilayah alternative untuk investasi yang sustainable di Indonesia, karena adanya tradisi sikap mutual trust, mutualrespect dan peaceful masyarakatnya terhadap kehadiran investasi. Di samping itu, factor keamanan lebih merupakan jaminan yang berjangka panjang, sehingga dapat menutup “kekurangan” DIY yang tidak memiliki pelabuhan ekspor dan industrial park. Oleh sebab itu harus diinformasikan sejak dini, bahwa peluang serta prospek investasi dan bisnis yang didorong Pemerintah Daerah dengan preferensi, karena masih kompetitif, adalah jenis-jenis industri yang non-poluted, non-volumetric dan berbobot ringan, serta jasa-jasa pelayanan software yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekarang tidak bisa lagi kita menawarkan sesuatu potensi yang maya sifatnya. Karena

jika pada kenyataannya berbeda dengan apa yang dipromosikan, justru akan menjadi boomerang yang berefek domino bagi kita sendiri.

BAB IV

KEWIRAUSAHAAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Peluang kewirausahaan membutuhkan formulasi kerangka baru (Casson, 1982). Dalam artikel ini mari kita mengajukan pertanyaan: kenapa seseorang dan bukan yang lain, dapat mengetahui dan melihat adanya peluang? Rumus yang dapat kita ajukan adalah kepemilikan orang tersebut akan informasi dan belief yang dapat mengantarkan seseorang untuk berfikir tentang ide-ide inovatif. Karena belief dan kepemilikan informasi tidak sama antara satu orang dengan yang lain maka tidak setiap orang mampu mengenali setiap peluang kewirausahaan yang tersedia (Shane, 2000). Penelitian telah menjelaskan bahwa karakteristik psikologis dan non psikologis dari seseorang mempengaruhi tendensinya untuk mengihat peluang kewirausahaan.

Secara umum, yang menyebabkan seseorang mampu melihat peluang usaha dibandingkan yang tidak adalah pertama mereka memiliki akses yang lebih baik akan informasi tentang keberadaan peluang. Kedua, mereka dapat mengenali peluang lebih baik daripada yang lain, walaupun diberikan sejumlah informasi yang sama tentang hal peluang. Biasanya, hanya orang yang memiliki kemampuan kognitif superior yang memiliki kemampuan tersebut.

4.1. Akses informasi

Beberapa orang mampu mengenali peluang lebih baik karena mereka memiliki informasi lebih dibandingkan orang lain (Hayek, 1945; Kirzner, 1973). Informasi ini memungkinkan seseorang untuk mengetahui bahwa sebuah peluang adalah sebuah anugerah ketika orang lain mengabaikan situasi tersebut. Informasi pengalaman hidup yang spesifik, seperti pekerjaan atau kehidupan sehari-hari dapat memberikan akses pada informasi dimana orang lain belum tentu mendapatkannya (Venkataraman, 1997). Pengalaman hidup ini memberikan proses permulaan pada informasi bahwa orang lain telah menggunakan sumberdaya secara tidak lengkap atau tidak proporsional, seperti perubahan teknologi atau perkembangan peraturan yang baru.

4.2. Pengalaman hidup

Aktivitas tertentu memberikan referensi pada pengatahuan yang dibutuhkan untuk mengetahui peluang. Dalam faktanya, penelitian sebelumnya telah menunjukkan kejadian dari dua aspek pengalaman hidup yang meningkatkan probabilitas seseorang untuk mengetahui peluang yaitu pekerjaan dan pengalaman yang berbeda.

4.3. Pekerjaan

Pekerjaan seseorang dapat mengantarkan seseorang untuk menemukan peluang baru. Sebagai contoh, ahli kimia atau fisika lebih dulu dalam menemukan teknologi dibandingkan ahli sejarah karena penelitian memberikan mereka akses pada informasi tentang peluang dimana orang lain tidak mendapatkannya (Freeman, 1982). Diantara tipe-tipe pekerjaan yang menyediakan akses pada informasi, yang paling signifikan adalah Research and Development (Klepper dan Sleeper, 2001). Karena penelitian dan pengembangan menciptakan sebuah informasi baru yang menyebabkan perubahan teknologi, sehingga menjadi sebuah sumber utama dari peluang (Aldrich, 1999) maka orang yang bekerja dalam bidang penelitian dan pengembangan akan lebih cepat mengetahui tentang adanya peluang dan perkembangan teknologi dibandingkan orang lain.

Contoh yang paling dekat dengan kita adalah penemuan VCO oleh dosen MIPA Kimia UGM, Bapak Bambang Prastowo. Beliau adalah seorang peneliti. Beliau menemukan cara untuk mengambil minyak kelapa tanpa ada proses pemanasan. Hasilnya, ternyata minyak tersebut memiliki khasiat yang banyak dan lebih baik. Hasilnya penelitiannya beliau jual dan mendapatkan keuntungan banyak.

4.4. Variasi dalam pengalaman hidup

Variasi dalam pengalaman hidup menyediakan akses pada informasi yang baru dan dapat membantu seseorang dalam menemukan peluang. Penemuan peluang ini kadang seperti menyusun puzzle, karena sebuah kepingan informasi yang baru kadang memiliki elemen yang hilang dan membutuhkan kecermatan bahwa peluang baru telah hadir. Variasi dalam pengalaman menyebabkan seseorang akan menerima informasi yang baru. Selanjutnya, dari hal tersebut individu dapat menemukan kepingan peluang (Romanelli dan Schoonhoven, 2001) karena individu dengan pengalaman hidup dan pekerjaan yang banyak akan memiliki akses dalam pengalaman yang beranekaragam (Casson, 1995).

Delmar dan Davidsson (2000) telah membandingkan sampel secara acak dari 405 orang yang memiliki bisnis dengan sebuah kelompok kontrol yang juga dipilih secara acak dan menemukan bahwa dalam proses memulai sebuah bisnis umumnya mereka adalah orang yang sering berpindah-pindah kerja dibandingkan kelompok kontrol.

4.5. Ikatan Sosial

Salah satu cara yang penting agar individu bisa mendapatkan akses informasi tentang peluang kewirausahaan adalah melalui interaksi dengan orang lain atau jejaring sosial mereka. Struktur dari jejaring sosial seseorang akan mempengaruhi informasi apa yang mereka terima dan mengkategorikan informasi tersebut.

Ikatan yang kuat pada seseorang yang kita percayai sepenuhnya, juga sangat menguntungkan dalam menemukan peluang. Dalam ikatan yang kuat, terdapat kepercayaan sehingga individu dapat mempercayai sepenuhnya keakuratan informasi yang datang dari orang tersebut. Kepercayaan dalam keakuratan informasi merupakan hal yang penting untuk penemuan peluang karena wirausahawan membutuhkan akses informasi, dan selanjutnya mensintesiskannya.

Beberapa penelitian mendukung pendapat ini bahwa ikatan sosial meningkatkan kemungkinan seseorang dalam menemukan peluang kewirausahaan. Sebagai contoh, Zimmer dan Aldrich (1987) mempelajari kelompok etnik yang bekerja secara mandiri di tiga kota di Inggris dan menemukan bahwa kebanyakan pemilik usaha mendapatkan informasi tentang peluang kewirausahaan melalui channel mereka.

BAB V

PERSOALAN DASAR

KEWIRAUSAHAAN DI INDONESIA

Apabila kita berkecimpung disektor bis­nis, kita banyak dituntut lingkungan untuk te­rus berinisiatif, kreatif, dinamis, agresif dan se­lalu harus mampu mengantisipasi tuntutan lingkungan yang terus berturnbuh. ini semua justru mematangkan pola berpikir dan kehi­dupan kita untuk terus menempa jiwa wira­swasta kita.

Istilah kewiraswastaan (entrepreneurship) sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, walaupun maknanya belum be­gitu difahami benar. Masih banyak di antara kita belum me­nyadari pentingnya kewiraswastaan.

Sektor bisnis yang sangat kompetitif dan peka terhadap pengaruh lingkungan, mutlak membutuhkan manusia wira­swasta, yang memiliki dinamika, motivasi, kreativitas dan ini­siatif nyata. Mereka ini mampu bekerja sama dengan penuh tanggung jawab dalam setiap penugasan yang dibebankan ke­padanya. Begitu pula, sektor pendidikan yang relatif tidak atau kurang kompetitif tetap membutuhkan manusia wiraswasta.

Jangan beranggapan bahwa apabila kita ingin mendidik calon wiraswasta, kita sendiri tidak perlu berjiwa ataupun ber­prilaku sebagai wiraswasta. Ini keliru namanya. Kita harus ter­lebih dulu menjiwai dan mempraktekkan kewiraswastaan ter­sebut, barulah kita akan berhasil mendidik orang lain. Saya kira keseluruhan aspek kehidupan manusia menuntut agar ke­wiraswastaan bertumbuh di sanubari masing-masing insan demi keberhasilannya dalam hidup ini.

Penyebab Rendahnya Jiwa Wirausaha

Harus diakui bahwa kegiatan yang lebih mementingkan hasil dan prestasi kerja, akan lebih mendorong terciptanya pola mekanisme kerja yang lebih obyektif. Sayang hal ini masih me­rupakan cita-cita belaka. Sebagian besar dari kita belum memi­liki jiwa wiraswasta secara nyata. Jiwa ambtenaar masih me­warnai dan menghantui tingkah laku serta kebiasaan kita.

Mengapa demikian ? Banyak faktor yang menyebabkan­nya. Mulai dari lingkungan keluarga sampai pada kebiasaan kerja atau praktek-praktek yang terjadi di masyarakat memang kurang mendukung tumbuhnya jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat kita.

Nilai-nilai yang diyakini masyarakat kita pada hakekatnya merupakan warisan sejarah kolonial. Struktur masyarakat me­mang kurang memberi peluang kepada pribumi bangsa kita untuk bisa menempa, mengembangkan atau memiliki jiwa wiraswasta yang baik. Struktur masyarakat pada masa kolonial sengaja diatur agar kita tidak bisa maju. Kesempatan untuk berkembang dibatasi. Pendidikan sangat dibatasi, hanya orang-orang tertentu saja yang memperoléh peluang untuk rnengenyam kemudahan pendidikan dengan baik.

Mulai masa kanak-kanak sampai melangkah dewasa dan bekerja, kita kurang dibekali prin­sip-prinsip, hidup positif. dinamis dan kreatif. Paling-paling kita diharapkan bisa mèmpelaja­ri dari contoh-contoh yang terjadi di masyara­kat melalui cara coba-coba.

Kegiatan dan lapangan kerja dibatasi pula. Paling tinggi kita bisa bekerja sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan ini pun terbatas bagi orang-orang kaya dan keturunan bangsawan. Sebagian terbesar rakyat justru bekerja sebagai buruh dan petani kecil. Kegiatan di sektor ekonomi, perdagangan dan sektor bisnis lainnya diserahkan pada orang-orang Eropa dan golongan non pribumi. Sektor-sektor inilah yang sebenarnya mampu menempa kewiraswastaan kita. Tetapi justru kita kurang diberi kesempatan di bidang ini. Paling-paling satu dua, alias terbatas sekali jumlahnya.

Apabila kita berkecimpung di sektor bisnis, kita banyak dituntut lingkungan untuk terus berinisiatif, kreatif, dinamis agresif dan selalu harus mampu mengantisipasi tuntutan lingkungan yang terus bertumbuh. ini semua justru mematangkan pola berpikir dan kehidupan kita untuk terus menempa jiwa wiraswasta kita.

Tempo dulu orang kita kalau sudah bisa bekerja di kantor gubernemen. sebagai ambtenaar atau pegawai sudah merasa status sosialnya tinggi. Orang yang bekerja di luar gubernemen dianggap sebagai masyarakat kelas dua atau rendah martabatnya. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun kita alami. Konsekuensinya jiwa ambtenaar telah merasuk ke lubuk hati kita dan telah menjadi keyakinan sebagian terbesar orang kita. Sampai kinipun hal ini masih tertekan.

Sudah sejak kecil kita selalu dibebani gambaran bahwa menjadi pegawai adalah satu-satunya tujuan yang harus dicapai. Orang tua kita menginginkan agar anaknya bisa menjadi ambtenaar. Target yang harus diraih anaknya ialah menjadi pegawai kantoran saja. Prestige lebih diunggulkan dibandingkan dengan prestasi. Orang cenderung lebih memperhatikan gengsi dibandingkan kerja keras untuk berprestasi. Yang lebih di utamakan adalah kepentingan status pribadi ini semakin lama semakin berkembang negatif

Lebih-lebih dengan pengaruh materialisme yang semakin menghantui kehidupan manusia. Kualitas dan prestasi kerja kurang diperhatikan bahkan nyaris diabaikan. Orang hanya mengejar kedudukan dan materi. Bahkan unit kerja yang menjadi favoritpun mempengaruhi gairah kerja setiap orang. Unit yang basah dirasa semakin penting dibanding dengan unit yang kering. Orang akhirnya akan selalu memperhatikan materi melulu, tidak melihat makna pekerjaan yang harus ditangani.

Etika dan aturan permainan dalam organisasi diabaikan begitu saja. Fungsi manajemenpun tidak akan berperan baik. Akibatnya pola manajemen dan mekanisme organisasi tidak akan bisa terkendali. Sistem tidak akan mampu mengatur dan mengendalikan kegiatan organisasi. Individu yang menduduki pucuk pimpinan organisasi seharusnya mampu mengendali­kan mekanisme kerja organisasi. Tetapi justru mereka kurang memperhatikan aktivitas organisasi secara utuh. Ia hanya mengutamakan kepentingan pribadinya demi kelangsungan dan kesinambungan posisi dan kedudukannya. Ia kurang memperhatikan detail operasional organisasi yang ia pimpin. Segala urusan teknis operasional dipercayakan kepada bawah­an dengan otoritas yang dibatasi pula. Konsekuensinya, kelan­caran operasionalpun akan terganggu. Sebab orang yang ber­hak mengambil keputusan berada jauh dari pihak yang mem­butuhkan keputusan tersebut. Kesenjangan komunikasi ini semakin menganga lebar dan pada gilirannya akan cukup merugikan organisasi secara keseluruhan.

Perkembangan juga memperlihatkan adanya kecende­rungan pucuk pimpinan untuk berusaha mendominasi organi­sasi. Otoritas sebagai Pimpinan dicoba untuk ditonjolkan. Segala sesuatu diarahkan agar tergantung pada pucuk pimpin­an sepenuhnya. Sampai-sampai sewaktu pimpinan menjalan­kan cutipun, semua pekerjaan terpaksa harus menunggu sam­pai ia kembali bertugas. Merah-hitamnya organisasi beserta nasib anggotanya tergantung belas kasihan beliau. Dialah yang berwenang mengatur segalanya.

Masyarakat serta lembaga pendidikan benar­-benar dituntut peran-sertanya untuk bersama - sama pemerintah memikirkan tersusunnya dan terlaksananya pola pendidikan yang inte­gral.

Praktek-praktek demikian telah mampu meruntuhkan jiwa wiraswasta, jiwa mandiri ataupun kemauan bekerja keras bagi setiap pendatang dalam organisasi. Orang yang baru me­ninggalkan bangku sekolah atau universitas, setelah melihat, merasakan dan mengalami sendiri, idealisme mereka akan mu­dah luntur atau hilang. Ia akan larut ke dalam arus materialistis, egoisme individu dan berorientasi pada status saja. Pengeta­huan manajemen ataupun pengetahuan lain yang sempat di­peroleh selama studi akan tersimpan rapat dalam benaknva tanpa perlu dipraktekkan atau diamalkan demi kepentingan masyarakat banyak. Inisiatif ataupun kreativitas seseorang akan mudah hilang lenyap dalam kemelut demikian.

Apabila kita mau mengkaji semuanya itu, ternyata hal ter­sebut wajar kalau terjadi demikian. Sebab sudah sejak kecil kita secara tidak sadar telah diarahkan untuk memiliki nilai-nilai hidup demikian. Mulai masa kanak-kanak sampai melangkah dewasa dan bekerja, kita kurang dibekali prinsip-prinsip hi­dup positif, dinamis dan kreatif. Paling-paling kita diharapkan bisa mempelajari dan contoh-contoh yang terjadi di masyara­kat melalui cara coba-coba. Ya, kalau ketemu contoh yang baik. Tetapi kalau terus-menerus dihadapkan pada hal-hal yang ne­gatif, kemungkinan besar pola berpikir kitapun akan negatif.

Masa Pra-Sekolah

Umar kalau sudah besar mau jadi Apa ? Jadi dokter begitu jawab bocah berusia 5 tahun yang bernama Umar. Ya sejak kecil kita memang sudah diajari untuk memiliki cita-cita semacam dokter, Insinyur, guru dan pekerjaan formal lainnya yang Kyosaki menyebutnya sebagi self employee. Jarang orangtua kita mengajarkan, mengarahkan dan membimbing kita untuk jadi pengusaha. Pemikiran seperti itu bisa dimaklumi dalam masyarakat kita yang mementingkan status dan kedudukan social yang mapan disamping peran cultural sebagai sisa-sia penjajahan yang begitu lama.

Sejak kanak-kanak kita sudah terbiasa dihadapkan pada kenyataan hidup yang sebenarnya cukup merugikan pertumbuhan jiwa dan pribadi kita di kemudian hari. Lebih-lebih bagi masyarakat masa kini yang sudah termasuk golongan masyarakat dengan kehidupan ekonomi atau sosial cukup baik. Pola kehidupannya ternyata kurang menguntungkan pendidikan anak-anak mereka sendiri.

Karena kecukupan materi anak dibiasakan diasuh, didampingi pembantu, istilah kerennya baby – sitter. Segala kebutuhannya diatur dan disediakan oleh si pembantu. Ia dimanja oleh lingkungan keluarga. Akibatnya ia akan suka memerintah, tahu beres saja. Ia tidak pernah mau berusaha sendiri. Ia selalu menggantungkan diri pada orang lain.

Dari kecil kita sudah diajari pula untuk membatasi diri pada lingkungan hidup tertentu saja. Muncullah pengelompokan-pengelompokan dalam masyarakat yang non-formal sifatnya. Sebagai keturunan orang gedongan, ia tidak diperke­nankan sembarangan bergaul. Ia diisolir oleh gambaran-gam­baran yang bisa meracuni keyakinan hidupnya di kemudian hari. Konsekuensinya ia akan bisa menutup diri dan hanya bergaul dengan sekelompok masyarakat tertentu saja. Pan­dangan hidup dan pola berpikirnya akan sempit dan kerdil. Kebiasaan ini nantinya akan dapat mernpertebal orientasinya yang hanya menitik beratkan pada gengsi-gengsian atau status saya, kalau ia memang tidak dibekali prinsip-prinsip hidup yang kokoh.

Bagi orang berada, segala kebutuhan, ke­perluan anak selaiu tersedia. Pokoknya tugas anak hanya sekolah dan belajar. Pendekatan rnanusiawi oleh kedua orang tua dalam masa pendidikan banyak terlupakan.

Masa Sekolah

Sewaktu mendaftarkan diri masuk sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi, anak-anak sudah dibiasakan dibantu orang tua. Ini dilakukan dengan dalih bahwa untuk bisa masuk sekolah atau mendaftarkan diri sering ada uang ini dan itu. Yang dapat mengatur hal tersebut hanyalah orang tua. Akibatnya anak-anak kurang dididik un­tuk bisa berusaha sendiri. Minimal mulai masuk Sekolah Lan­jutan Tingkat Atas, seyogyanya anak-anak mulai diarahkan untuk berusaha mendaftarkan sendiri. Bahkan sering pula ter­jadi bahwa jurusan pendidikan yang harus diikuti anak-anak juga diatur berdasarkan keinginan orang tua.

Pergi ke sekolahpun selalu diantar oleh orang tua atau pembantu. Ada yang diantar dengan mobil, motor ataupun sepeda. Ada yang harus sewa becak atau minibus antar jemput secara bulanan. lni wajar diiakukan untuk anak kecil bukan untuk remaja, karena kondisi transportasi memang kurang me­mungkinkan. Syukur apabila sekolah-sekolah, melalui KOPE­RASI SEKOLAH misalnya, bisa menyediakan kendaraan antar jemput, sekalipun harus membayar bulanan. Karena hal ini akan dapat mendidik anak-anak untuk berusaha sendiri, ber­inisiatif dan mulai mandiri. Lalu dilepas dari sifat ketergantung­annya pada orang lain. Anak-anak diberi kebebasan memang baik. Tetapi jangan pula sampai jor-joran seperti sekarang atau mereka (siswa SLTP/SLTA) sudah diperbolehkan mem­bawa mobil sendiri ke sekolahan. Penggunaan sepeda motor-pun seyogyanya bisa dibatasi dengan disediakannya kemu­dahan transportasi yang nyaman aman. Satu dan lain untuk mencegah persaingan yang tidak sehat ser­ta tumbuhnya kecongkakan kekuasaan yang bisa menekan wibawa para pendidik.

Pola pendidikan di negara kita memang belum memikir­kan secara menyeluruh demikian Pemerintah baru berusaha membenahi sistem dan kurikulum péndidikan yang memang harus segera ditangani secara serius. Di sini masyarakat serta lembaga pendidikan benar-benar dituntut peran sertanya Un­tuk bersama-sama pemerintah memikirkan tersusunnya dan terlaksananya pola pendidikan yang integral. Jadi orangtua wajib ikut berperan aktif dalam menata masa depan anaknya dengan menumbuhkan kemandirian si anak. Jangan hanya memanjakan saja. Jangan hanya menyerahkan kepada lembaga pendidikan untuk membentuk watak dan kepribadiannya.

Dewasa inipun kita sering mendengar apabila seorang anak tidak naik kelas, tidak lulus ujian atau tidak diterima ma­suk sesuatu sekolah, orang tuanya segera tampil untuk menga­tasinya. Dengan kekuasaanya, entah berupa gertak dan atau kekayaan, ia memaksa agar anaknya dinaikkan, diluluskan atau diterima saja. Kenyataan ini nampak sudah biasa atau sudah jamak di masyarakat kita. Sistem backing bertumbuh. Muncullah kecongkakan kekuasaan atas diri anak-anak. Begitu ada masalah, anak-anak berlindung pada Babenya untuk minta bantuan. Akhirnya si anak tidak akan menjadi orang berprin­sip ataupun menjadi orang yang penuh tanggung jawab. Ini berbahaya.

Sistem pendidikan yang kurang membantu bertumbuhnya inisiatif, dinamika ataupun kreativitas anak didik. Murid seca­ra pasif hanya mendengarkan teori yang dikemukakan oleh sang guru. Sifat pelajaran relatif banyak hafalan. Baru sekarang ini saja sifat pelajaran yang menanamkan pengertian mulai di­ajarkan. Murid kurang pula dibekali dengan pemberian penger­tian melalui gambaran kenyataan hidup yang ada. Bahkan pe­nyediaan bahan bacaan yang terbatas kurang membantu peningkatan pengetahuan anak didik. Untunglah dewasa ini Pe­merintah mulai menjamah dan menangani hal tersebut secara lebih serius. Pola dan sistem pendidikan yang partisipatif seca­ra bertahap nampak ditumbuhkan.

Disamping itu, banyak dari kita kurang menyadari bahwa kita semua wajib belajar dengan cara melihat, mengamati, mendengarkan, merasakan atau mengalami langsung. Saat ini masih banyak kecenderungan orang untuk hanya mendengar­kan kata guru atau dosen dan membaca buku pelajaran saja. Kita relatif belum mendayagunakan kelima indera kita untuk mendengarkan dan melihat kenyataan hidup yang kita alami. Perkembangan lingkungan kehidupan kitapun nyaris tidak di­perhatikan sama sekali. Akibatnya banyak dari kita memisah­kan secara nyata antara teori dengan praktek. Kita kurang meyakini akan pentingnya ilmu pengetahuan yang kita per­oleh demi keberhasilan hidup kita.

Kita sudah cukup banyak mencetak tenaga-tenaga sarjana yang diharapkan akan mampu menumbuhkan serta mencipta­kan manager-manager profesional dengan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi nyatanya hal tersebut masih merupakan harapan. Kemampuan para cendekiawan untuk mengembangkan buah pikirannya nampak masih terba­tas, karena mereka kurang mau berusaha untuk itu. Apalagi se­bagian besar dari sarjana kita begitu selesai studinya berhenti belajar. Ia kurang berusaha untuk mengkaji terus kenyataan­ - kenyataan yang ada untuk diolah secara ilmiah. Kerja ya kerja. Baca buku dianggap buang tempo atau dianggap teoritis melu­lu dan ini tidak perlu. Yang penting praktek. Kalaupun ada yang berkeinginan untuk membaca, ternyata harga bukunya pun tidak terjangkau oleh kantongnya.

Orang tua dalam mendidik anak-anaknya pun kurang me­mikirkan perlunya inisiatif dan kepribadian anak ditumbuh­kan. Orang tua selalu mengarahkan agar anaknya memilih ju­rusan yang dianggap menguntungkan kehidupan materi dikemudian hari, sekalipun yang bersangkutan tidak mampu untuk studi di bidang tersebut. Keinginan orang tua harus di­turuti. Kepribadian anak sering terguncang akibatnya. Ia tidak sempat memupuk kepercayaan diri ataupun menumbuhkan prinsip hidup yang kokoh agar bisa hidup mandiri.

Bagi orang berada, segala kebutuhan, keperluan anak sela­lu tersedia. Pokoknya tugas anak hanya sekolah dan belajar. Pendekatan manusiawi oleh kedua orang tua dalam masa pen­didikan banyak terlupakan. Orang tua sibuk dengan urusan­nya. Mereka menganggap materi yang disediakan bagi anak-­anaknya sudah lebih dan cukup. Kalau sudah menyediakan Segala kebutuhan materi anak, orang tua merasa bahwa ia sudah mampu berperan sebagai orang tua yang penuh tanggung ja­wab. Mereka lupa bahwa ia berkewajiban memberikan dasar pandangan hidup, keyakinan hidup serta membimbing kehi­dupan rohaninya. Bahkan tidak jarang terjadi dalam suatu ke­luarga adanya kesenjangan komunikasi yang dalam antara orang tua dengan anak-anaknya.

Pendidikan non-formal yang banyak kita te­mui, kita alami dalam kenyataan hidup berma­syarakat, justru yang paling banyak memben­tuk pola berpikir dan sikap hidup kita. Inipun kalau kita benar- benar bersikap antisipasif ter­hadap lingkungan hidup dan kerja kita.

Unsur materialisme saat ini memang sangat mencekam kehidupan kita semua. Segala sesuatunya diukur hanya de­ngan nilai uang. Uang dan materilah yang menentukan segala - ­galanya. Anak-anak orang berada, di sekolahnya pun bertingkah dan dihinggapi kecongkakan kekuasaan. Dengan kekayaannya mereka memberikan warna pergaulan hidup yang ku­rang baik sok kuasa dan meremehkan orang lain. Keadaan de­mikian merupakan konsekuensi logis tidak atau kurang berfungsinva orang tua sebagai pengayom dan panutan anak-­anaknya.

Bapak sebagai kepala keluarga sudah disibukkan dengan urusan kantor, bisnis, rapat, sidang, urusan golf sampai pro­gram jantung sehat segala. Sang lbu tak kalah sibuk. Aktif de­ngan organisasi wanita, kegiatan sosial dan pertemuan-perte­muan lain sebagai pendamping suami yang notabene diwajib­kan demi kemajuan atau kelangsungan kedudukan sang suami. Luruhlah posisi dan peranan keluarga sebagai lembaga pendidikan non-formal terpenting bagi pertumbuhan perso­nalitas serta kematangan pola berpikir si anak. Bahkan secara tidak sadar banyak orang tua sudah melepaskan tanggung ja­wabnya sebagai pendidik watak dan kepribadian anak mereka. Akibatnya pertumbuhan kepribadian, kepercayaan diri atau­pun keyakinan hidup si anak tidak bisa bertumbuh stabil. Tanpa bekal iman dan kepribadian dari rumah secara mantap, anak-anak akan mudah diguncang oleh pengaruh lingkungan. Mereka mudah terombang-ambing karena memang belum me­miliki prinsip hidup yang mantap.

Pendidikan formal tidak cukup sebagai bekal hidup di ma­syarakat yang telah banyak dipengaruhi unsur-unsur material­isme dan kemajuan teknologi. Tanpa bekal yang kuat, orang akan mudah mengagungkan materi di atas segala-galanya. Kehidupan materialistis ini jelas lebih banyak berpengaruh negatif terhadap perilaku manusia. Orang hanya akan meng­hargai sesamanya diukur dari harta atau status sosialnya saja. Saat ini pun sudah banyak contoh dan buktinya.

Lain pula dengan golongan yang kurang begitu mampu, yang kehidupan ekonominya cukupan saja. Hasrat dan kemau­an belajarnya umumnya tinggi. Mereka mau menghayati dan memahami makna kesulitan hidup. Kreativitas dan inisiatif akan mudah bertumbuh karena memang harus benar-benar berjuang untuk hidup. Mereka umumnya memiliki pandangan hidup atau pegangan hidup yang baik. Mereka tahan uji, tahan dari hantaman dan percobaan. Mereka umumnya tekun dan ulet dalam perjuangan hidupnya. Kenyàtaan ini bisa kita lihat dari pola kehidupan bapak-bapak kita yang mengalami pahit getirnya perjuangan fisik dibandingkan dengan pola kehidup­an anak-anak beliau yang relatif berkecukupan dalam kehidupannya di masa pembangunan ini.

Karena kerasnya perjuangan fisik dan pahitnya kehidupan tempo dulu, bapak-bapak tersebut cukup ulet, tabah dan pantang menyerah sehingga sekarang beliau hidup sukses. Penga­laman pahit demikian inilah yang banyak mendorong mereka untuk cenderung memanjakan anak-anaknya supaya jangan ikut merasakan getirnya kehidupan yang pernah dialaminya. Akibatnya bisa kita lihat dalam kehidupan sekarang ini. Ba­nyak anak kurang memiliki disiplin, inisiatif ataupun kreativi­tas yang tinggi. Lingkungan kehidupan telah memanjakan dan menina-bobokannya sehingga mereka tidak bisa hidup man­diri.

Guna membenahi ini semua dan untuk menumbuhkan jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat, perlu kiranya dibe­nahi pola pendidikan kita secara menyeluruh. Untuk itu, anta­ra Pemerintah dengan masyarakat harus terjalin kerjasama yang saling mendukung. lnterdependensi antar seluruh ang­gota masyarakat harus bisa dikembang-tumbuhkan ke arah yang lebih positif. Lembaga pendidikan tidak akan mampu membentuk pribadi-pribadi manusia yang tangguh tanpa pe­ran serta anggota masyarakat secara nyata. Orangtua wajib membekali dasar pembentukan watak dan kepribadian serta keyakinan anak-anaknya. Masyarakat wajib ikut serta meng­endalikan atau mengamankan pola pengaturan tatanan masyara­kat sesuai peraturan yang berlaku. Pemerintah dan unsur ma­svarakat lainnya aktif melaksanakan kegiatan pendidikan seca­ra integral.

Masa Pendewasaan

Pematangan pola berpikir harus terus dilakukan dalam ke­hidupan bermasyarakat ini. Bukan berarti kalau kita sudah se­lesai atau tamat sekolah, kesempatan belajarnya pun terhenti. Proses belajar sebenarnya tidak akan ada henti-hentinya sela­ma hayat dikandung badan. Proses ini dilakukan dengan me­manfaatkan seluruh indera kita semaksimal mungkin. Pendi­dikan non-formal yang banyak kita temui, kita alami dalam ke­nyataan hidup bermasyarakat, justru yang paling banyak membentuk pola berpikir dan sikap hidup kita. Inipun kalau kita benar-benar bersikap antisipatif terhadap lingkungan hidup dan kerja kita.

Kita belajar dari hasil membaca, melihat kenyataan, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang lain, merasakan dan mengalami sendiri suatu kejadian. Dari pengalaman kita inilah, kita akan mampu mengkaji sesuatu dan mematangkan kemampuan kita. Dari pola atau cara belajar demikianlah, masa pendewasaan tersebut harus kita lalui sehingga pola berpikir kita akan semakin matang, luas, mendalam dan mantap.

Dalam mengkaji pengalaman tersebut, kita harus pandai-pandai menyaring agar diperoleh hasil akhir yang justru mematangkan pola berpikir kita.

Selama proses pendewasaan demikianlah, saya rasa letak titik kritisnya. Banyak orang merasa kalau sudah bekerja dan berkeluarga, sasaran utamanya ialah mencari uang saja. Lain tidak. Segala upaya difokuskan untuk itu. Sejalan dengan upaya tersebut, setiap orang minimal akan berusaha untuk bisa meraih kedudukan , posisi ataupun status demi prestige dan gengsinya dalam kehidupan masyarakat. Berkembanglah praktek-praktek yang membawa ekses negatif bagi pola manajemen serta mekanisme organisasi.

Kenyataan ini diperburuk dengan semakin kompleksnya perkembangan organisasi. Dalam organisasi yang membengkak timbul berbagai ekses yang cukup menghambat pertumbuhan manajemen. Antara lain timbulnya klik dan koncoisme. Sistem manajemen atau sistem operasional akan kurang bermakna karena aktivitas organisasi sepenuhnya berkiblat pada selera pucuk pimpinan.

Pola manajemen dan mekanisme organisasi semacam ini wajar akan muncul bertambah mengingat latar belakang kehidupan keluarga, sosial dan masyarakat yang kita alami memang kurang menguntungkan. Kita sebagai masyarakat panutan ternyata kurang konsekuen sebab banyak senior kita yang justru kurang bisa berperan sebagai panutan yang baik. Lagi pula lingkungan kerja kitapun kurang mendorong bertumbuhnya jiwa wiraswasta yang mandiri dalam sanubari pegawai, dimana pegawai seyogyanya merupakan tenaga PILAR suatu organisasi. Tenaga PILAR yakni tenaga yang memiliki karakteristik berikut :

1. “Pandai”. Tingkat kepandaiannya dapat diandalkan.

2. “Inisiatif”. Kemampuan untuk mengambil inisiatif tampak nyata.

3. “Lugas”. Sifat hidupnya jujur dan tegas penuh disiplin serta tanggung jawab.

4.”Antisipatif”. Kemampuan untuk terhadap perkembangan lingkungan hidup atau kerjanya cukup baik.

5. ”Rasional”. Pola berpikirnya sangat rasional.

Seyogyanya kalau senioritas digunakan sebagai dasar penilaian pegawai, maka kita ha­rus menganut makna senioritas yang murni tanpa mengurangi unsur prestasi Sistem senioritas tetap bisa dimanfaatkan asal diga­bungkan dengan sistem penilaian prestasi yang berlandaskan kematangan atau kedewa­saan pola berpikir pegawai.

Dalam prakteknya. Pucuk Pimpinanlah yang menentukan segala-galanya. Pola kerja demikian sangat merugikan organisasi. Pendapat pribadi pegawai sulit dilontarkan, Bahkan nyaris tidak diberi hak untuk mengemukakan pandangannya.

Selama ini tenaga-tenaga PILAR sulit dikembangkan karena memang kita sudah terlena, sudah terbawa arus pola berpikir yang lebih mementingkan prestige dibandingkan dengan prestasi.

1. UNSUR SENIORITAS

Dalam masyarakat paternalistik atau panutan, unsur senioritas sangat diperhatikan. Tetapi yang diperhatikan nampaknya baru senioritas dalam arti sempit yakni hanya dilihat masa kerjanya, bukan ketrampilan atau kemampuan pegawai yang dapat diperoleh selama masa kerja tersebut. Masa kerja pegawai sudah 15 (lima belas) tahun. Hanya saja selama itu pegawai kurang mau atau mampu berusaha untuk menghayati dan mendalami sifat atau karakteristik serta detail penugasan yang dibebankan kepadanya. Keluasan dan kedalaman penguasaan tugas yang bersangkutanpun setingkat dengan pengalaman kerja selama 1 (satu) tahun saja. Seyogyanya, seseorang dikatakan sudah berpengalaman kerja atau bisa dikatakan pejabat senior, apabila ia benar-benar

a. Berpengalaman kerja yang dapat diandalkan bobot dan kadarnya.

b. Berpengetahuan dan memiliki pandangan yang luas.

c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup dalam, serta

d. memiliki pola berpikir yang matang dan mantap.

e. Memiliki kearifan (wisdom)

Apabila kita mau menganut sistem senioritas, ya harus konsekuen. Jangan hanya karena ia sudah lama bekerja lantas dikatakan senior. Unsur pengalaman sesuai penempatan tidak dihiraukan, sehingga arti senior sudah tidak murni lagi dan memberikan citra yang kurang baik.

Seyogyanya kalau senioritas digunakan sebagai dasar penilaian pegawai, maka kita harus menganut makna senioritas yang murni tanpa mengurangi unsur prestasi. Tegasnya kita wajib melakukan pelurusan sistem senioritas yang selaras dengan keyakinan masyarakat kita. Melalui pendidikan dan pembinaan yang mendasar dan integral, diharapkan kita bisa mulai meluruskan sistem dan mekanisme pengorganisasian setiap unit kerja. Sistem senioritas tetap bisa dimanfaatkan asal digabungkan dengan sistem penilaian prestasi yang berlandaskan kematangan atau kedewasaan pola berpikir pegawai,

2. MEKANISME PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan dalam suatu organisasi di negara kita, sebagian terbesar dilakukan kelompok (oleh kelompok PIMPINAN) yakni berlandaskan musyawarah dan mufakat. Demikian pula keputusan yang sifatnya penting. Sayangnya, cara demikian kurang dilakukan secara konsisten , hanya setengah-tengah saja.

Dengan dalih musyawarah untuk mufakat, dalam suatu organisasi sering diadakan rapat ataupun pertemuan-pertemuan konsultatif. Apapun nama pertemuan

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Lembaga Manajemen FE UI pada tahun 1987 melakukan penelitian dan berhasil merumuskan beberapa permasalahan utama yang dihadapi SME sebagai berikut :

1. Sebelum investasi masalah permodalan : kemudahan usaha (lokasi dan perijinan).

2. Pengenalan usaha : pemasaran, permodalan, hubungan usaha.

3. Peningkatan usaha : pengadaan bahan/barang.

4. Usaha menurun karena : kurang modal, kurang mampu memasarkan, kurang keterampilan teknis, dan administrasi.

5. Mengharapkan bantuan pemerintah berupa modal, pemasaran, dan pengadaan barang.

6. 60 % menggunakan teknologi tradisional.

7. 70 % melakukan pemasaran langsung ke konsumen.

8. Untuk memperoleh bantuan perbankan, dokumen-dokumen yang harus disiapkan dipandang terlalu rumit.

Text Box: Lembaga Manajemen FE UI pada tahun 1987  melakukan penelitian  dan berhasil merumuskan beberapa permasalahan utama yang dihadapi SME sebagai berikut : 1.	Sebelum investasi masalah permodalan : kemudahan usaha (lokasi dan perijinan). 2.	Pengenalan usaha : pemasaran, permodalan, hubungan usaha. 3.	Peningkatan usaha :  pengadaan bahan/barang. 4.	Usaha menurun karena : kurang modal, kurang mampu memasarkan, kurang keterampilan teknis, dan administrasi. 5.	Mengharapkan bantuan pemerintah berupa modal, pemasaran, dan pengadaan barang. 6.	60 % menggunakan teknologi tradisional. 7.	70 % melakukan pemasaran langsung ke konsumen. 8.	Untuk memperoleh bantuan perbankan, dokumen-dokumen yang harus disiapkan dipandang terlalu rumit.<!–[if supportFields]><![endif]–>

tersebut, tetapi setiap keputusan rapat relatif tidak ada yang mengikat sifatnya. Keputusan rapat nampaknya hanya sekedar keputusan di atas kertas.

Dalam prakteknya, Pucuk Pimpinanlah yang menentukan segala-galanya. Pola kerja demikian sangat merugikan organisasi. Pendapat pribadi pegawai sulit dilontarkan bahkan nyaris tidak diberi hak untuk pendapatnya. Akibatnya, inisiatif, kreativitas pegawai memudar, atau malah mati impoten. Dan ini membuat kesenjangan semakin dalam. Pada gilirannya pimpinan akan kurang mampu menghayati posisi organisasinya secara obyektif lagi.

Marilah kita renungkan benar-benar, apakah dengan pola kerja demikian, partisipasi pegawai dalam organisasi dapat dikembang-tumbuhkan ? Sulit untuk dikatakan saya kira. Sebab nampak adanya kecenderungan pola manajemen yang otoriterlah yang akan berkembang subur. Dan kalau diamati, tindakan otoriter tersebut sebenarnya sebagai akibat ketidak atau kekurang-matangan para senior dan kekurang-mampuan kita mengartikan istilah beserta makna :

- Senioritas dan sistem pembinaan pegawai,

- Pola pengambilan keputusan secara musyawarah/mufakat serta

- Pola manajemen yang partisipatif.

Perbaikan pola manajemen sebenarnya bisa terus digalakkan asalkan Pucuk Pimpinan dan seluruh jajaran Pimpinan organisasi benar-benar sadar akan perlunya perbaikan tersebut.

BAB V

PROSES TERBENTUKNYA WIRAUSAHA

Munculnya banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbentuk. Bagian ini menjelaskan teori-teori proses pembentukn wirausaha. Teori tersebut antara lain ; life path change, goal directed behavior, pengambilan keputusan, dan outcome expectancy .

Teori Life path change

Menurut Shapero dan Sokol (2982), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha justru tidak melalui proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:

1. Negative displacement

Seseorang menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, terhina atau mengalami kebosanan selama bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bias juga karena sudah memasuki pension atau cerai perkawinan dan sejenisnya.

2. Being between things

Seseorang menjadi wirausaha karena merasa memasuki dunia baru seperti orang-orang yang baru keluar dari ketentaraan, sekolah atau penjara, kadangkala merasa sperti memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat mereka seakan berada di tengah-tengah (Being between things) dari dua dunia yang berbeda, namun mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Disinilah biasanya pilihan menjadi wirausaha muncul karena dengan menjadi wirausaha mereka bekerja dengan mengandalkan diri mereka sendiri.

3. Having positive pull

Orang menjadi wirausaha karena dukungan dari mitra kerja, investor, pelanggan, atau mentor

Teori goal directed behavior

Menurut Wolman (1973), seseorang dapat menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang menjadi wirausaha, motivasinya dapat terlihat langkah-langkahnya dalam mencapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need muncul karena adanya defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri yang bersangkutan (wirausaha).

Seorang terjun dalam dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan. Dari kacamata teori teori need dan motivasi tingkah laku, seperti menemukan kesempatan berusaha, sampai mendirikan dan melembagakan usahanya merupakan goal directed behavior. Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki kelangsungan hidup wirausaha.

Teori pengambilan keputusan

Sebelum mengambil keputusan terjun ke dalam dunia wirausaha, seseorang terlebih dahulu melakukan pertimbangan-pertimbangan. Pengambilan keputusan tidaklah selalu mudah, bahkan dapat menimbulkan konflik dengan dirinya sendiri atau orang lain, dan keluarga.

Moore (1964), mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah perpaduan dari kegiatan berpikir, memilih dan bertindak.

Mac Crimmon (1976), pengambilan keputusan adalah suatu proses berpikir dan bertindak yang bermuara pada pemilihan perilaku tertentu sesuai dengan keputusan yang diambil.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan:

1. Faktor-faktor yang berasal dari situasi lingkungan keputusan itu sendiri (decision environment)

2. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pengambil keputusan.

1). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan dari

lingkungan itu sendiri

Suatu lingkungan keputusan bisa berstruktur baik dan buruk, tergantung pada seberapa jauh si pengambil keputusan mengenal keadaannya pada masa sekarang (initial state), tujuan-tujuan akan datang yang ingin dicapai (terminal state) dan transformasi yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan yang diinginkannya. Apabila sipengambil keputusan cukup mengenal initial state, desired state dan transformasinya dengan baik, mka dia dihadapkan pada lingkungan keputusan yang berstruktur baik (well structured), dan jika pengambil keputusan tidak mampu mengenali initial state, terminal state dan transformasinya, maka dia dihadapkan pada lingkungan yang berstruktur buruk (ill structured)

Ada tiga kondisi lingkungan keputusan yang berstruktur buruk yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan:

1. Lingkungan yang tidak pasti

2. Lingkungan keputusan yang kompleks

3. Lingkungan keputusan yang merupakan situasi konflik

2). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan dari

dalam diri pengambil keputusan.

Menurut Taylor & Dunnete (1976), ada empat psikologis yang mempengaruhi strategi-strategi keputusan:

1. Kemampuan perseptual. Yaitu persepsi pengambil keputusan terhadap suatu maslah yang dihadapi akan menentukan derajad ketidakpastian, kompleksitas maupun yang diidentifikasi dari problem tersebut.

2. Kapasitas informasi. Yaitu kemampuan untuk mengolah informasi dalam hubungan dengan strategi pengambilan keputusan dimana pengambil keputusan dapat menggunakakan strategi-strategi di dalam kondisi lingkungan yang tidak pasti, kompleks, dan penuh pertentangan.

3. Kecenderungan untuk mengambil risiko. Merupakan kecenderungan yang mempengaruhi strategi keputusan yang digunakan untuk menahan karakteristik –karakteristik lingkungan yang mempunyai range yang luas. Dalam situasi pengambil keputusan yang penuh risiko, merasa tidak pasti mengenai hasil dan kemungkinan-kemungkinan kerugian yang terjadi. Kecenderungan ini mengakibatkan perbedaan-perbedaan tingkah laku orang-orang yang mengambil keputusan dalam melakukan aktivitasnya.

4. Tingkat aspirasi.

Tingkat aspirasi dari pengambil keputusan mempengaruhi efektivitasnya dalam menggunakan strategi-strategi keputusan dibawah kondisi lingkungan yang bervariasi. Tingkat aspirasi juga mempengaruhi efektivitas dalam mengidentifikasi masalah, mengevaluasi alternatif-alternatif yang akan dipilih, dan menentukan tawaran-tawaran pemilihan. Ada tiga kondisi yang mempengaruhi tingkat aspirasi seseorang dalam tugas-tugas pengambilan keputusan yaitu:

a. tujuan-tujuan yang spesifik

b. pengalaman masa lalu tentang keberhasilan dan kegagalan

c. penerimaan pengetahuan dari suatu akibat

Teori outcome expectancy

Bandura dalam Rambat Lapoyadi (2004), menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konsekuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu.

Dari definisi diatas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan.

Jenis outcome expectancy

Menurut Bandura dalam Rambat Lapoyadi (2004), ada beberapa jenis insentif sebagai imbalan kerja yang diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:

1). Insentif primer

Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologis (makan, minum, kontak fisik dls).

2). Insentif sensoris

Beberapa kegiatan manusia ditunjukkan untuk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat dilingkungannya.

3). Insentif sosial

Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman dari pada reaksi yang berasal dari suatu individu.

4). Insentif yang berupa token ekonomi

Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjangan , dll.

5). Insentif yang berupa aktivitas

Teori-teori yang mengenai reinfocement yang sangat terikat pada dorongan biologis, mengasumsikan bahwa imbalan akan mempengaruhi perilaku dengan cara memuaskan atau mengurangi dorongan fisiologis.

6). Insentif status dan pengaruh

Status dan kedudukan seseorang yang tinggi dalam masyarakat, mempunyai konsekuensi dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan dll. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.

7). Insentif berupa terpenuhinya standar internal

Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang.

BAB VI

MEMULAI BERWIRAUSAHA

Yang sering dikeluhkan oleh para mahasiswa ketika akan memulai berwirausaha, harus memulai dari mana? Selain itu, sering kali mahasiswa bahkan masyarakat umum, dijangkiti penyakit ‘jangan-jangan’ seperti ‘jangan-jangan saya rugi’, ‘jangan-jangan tidak laku’ ketika akan memulai sebuah usaha. Selain itu, muncul keraguan ‘waduh saingannya banyak’, bagaimana mungkin saya dapat memenangkan persaingan? Berikut ini akan disajikan langkah-langkah dalam memulai sebuah usaha berdasarkan kerangka teoritik modul kuliah 3, 4, 5, 7, dan 8.

6.1. Langkah-langkah memulai berwirausaha

1. Mengenali peluang usaha

Dalam modul kuliah 3 mengenai peluang usaha dinyatakan bahwa peluang sebenarnya ada di sekeliling kita, hanya saja ada beberapa individu yang mampu melihat situasi sebagai peluang ada yang tidak. Hal ini disebabkan faktor informasi yang dimilikinya Informasi memungkinkan seseorang mengetahui bahwa peluang ada sat orang lain tidak menghiraukan situasi tersebut. Akses terhadap informasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan hubungan sosial (Shane, 2003).

a. Pengalaman hidup.

Pengalaman hidup memberikan akses yang lebih mengenai informasi dan pengetahun mengenai penemuan peluang. Dua aspek dari pengalaman hidup yang meningkatkan kemungkinan seseorang menemukan peluang yaitu fungsi kerja dan variasi kerja.

b. Hubungan sosial.

Sebuah langkah penting dimana seseorang mendapatkan informasi dari interaksi dengan orang lain. Beberapa ahli menyarankan ketika seorang takut berwirausaha secara sendirian, maka mengawali usaha secara kelompok adalah alternative. Oleh karenanya, kualitas dan kuantitas dalam interaksi sosial akan lebih memungkinkan individu akan membuat kelompok dalam berwirausaha. Informasi yang penting ketika akan memulai usaha adalah informasi mengenai lokasi, potensi pasar, sumber modal, pekerja, dan cara pengorganisasiannya. Kombinasi antara jaringan yang luas dan kenekaragaman latar belakang akan mempermudah mendapatkan informasi tersebut. Beberapa sumber peluang usaha antara lain:

a. Perubahan teknologi

b. Perubahan kebijakan dan politik

c. Perubahan sosial demografi

2. Optimalisasi Potensi diri

Setelah mengenai peluang usaha maka harus dikombinasikan dengan potensi diri. Keunggulan kompetitif apa yang saya miliki? Yang sering terjadi di masyarakat kita adalah memilih usaha yang sedang trend saat itu. Hal ini sah-sah saja tetapi ketika dalam proses perkembangan tidak membuat inovasi, maka akan sulit bersaing. Counter HP di Yogyakarta merupakan bisnis yang menjamur dalam 3-4 tahun ini. Jika mereka tidak mempunyai keunggulan kompetitif misalnya layanan purna jual, harga yang bersaing, ataukah layanan secara umum baik, maka sulit akan berkembang. Seseorang datang ke sebuah toko untuk membeli HP, sebagian besar karena informasi yang telah didapatkan sebelumnya apakah dari mulut ke mulut ataukah dari koran. Hal ini sangat berbeda dengan ahli terapis untuk anak autis. Kenyataan menunjukkan penderita autis meningkat di masyarakat, sementara layanan atau terapis autis belum terlalu banyak. Keahlian khusus yang ‘langka’ akan dicari orang tanpa mempertimbangkan aspek lokasi usaha.

Usaha jasa berbasis pengetahuan (knowledge intensive service) merupakan satu alternatif usaha yang memiliki keunggulan kompetitif. Biasanya mereka mendirikan usaha misalnya konsultan keuangan, konsultan manajemen, konsultan enjinering karena kemampuan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karenanya, model usaha ini yang seharusnya dikembangkan dalam kewiarausahaan di Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong untuk melakukan riset sesuai dengan bidang ilmunya untuk memiliki pengetahuan baru dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Selain potensi diri dalam arti pengetahuan yang kita miliki, maka masih perlu mengoptimalkan aspek motivasi dan kepribadian. Dalam modul kuliah 5 kharakteristik kewirausahaan dari perspektif Psikologi maka dapat diperoleh gambaran ada beberapa kaharakteristik yang mendorong kesuksesan usaha dan yang tidak. Oleh karenanya, sejauh mana potensi psikologis anda mampu dioptimalkan dalam memulai sebuah usaha?

3. Fokus dalam bidang usaha

Peter Drucker pakar dalam kewirausahaan menyatakan bahwa dalam dalam memulai sebuah usaha atau inovasi dilakukan disarankan untuk terfokus –dimulai dari yang kecil berdasarkan sumberdaya yang kita miliki. Vidi catering di Yogyakarta adalah salah satu contoh dimana pendirinya berlatar belakang sarjana teknologi pertanian, jurusan pengolahan makanan. Memulai usaha rantangan untuk anak kost karena tinggal di sekitar kampus, kemudian karena basic knowledge di bidang pengolahan makanan, kemudian berkembang menjadi catering, hotel, dan sekarang ini gedung pertemuan dan paket pernikahan (event organizer).

4. ”Berani”, Modal Awal Entrepreneur

Dunia kewirausahaan adalah dunia ketidakpastian sementara informasi yang dimiliki oleh yang akan memulai usaha sedikit. Oleh karenanya, ‘sedikit agak gila’ (overconfidence) dan berani mengambil resiko adalah sangat perlu dilakukan. Lakukan dulu. Jalan dulu. Jika ada kesulitan, baru dicari jelan keluarnya.

Kami yakin, kalau entrepreneur berani memiliki visi, maka akan lebih dapat menciptakan kekuatan positif di dalam pikirannya. Sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup kita. Karena ini saya sangat yakin dengan ungkapan berikut ini: “Hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan”

Presiden RI pertama, Ir. Soekamo, pernah bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Visi itu memang bisa mensugesti orang. Dan, semua langkah kita akan kita arahkan kesana. Apalagi entrepreneur ini biasanya seorang pemimpi. Maka mimpi tentang perusahaan, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat mempengaruhi para pengikut yang dipimpinnya.

Anda “juru penerang”, mengusir gelapnya pikiran orang lain yang Anda pimpin. Ini prinsip kepemimpinan. Wirausahawan yang memiliki visi, adalah penerangan bagi para bawahannya, anggota “tim sukses”nya dalam bisnis. Wirausahawan dengan visi besar, merangsang terbangunnya atmosfir bisnis penuh kreativitas dan inovasi.

Bahkan orang meyakini, jiwa wirausahawan itu, dekat sekali dengan dunia pengkhayal. Apa susahnya, berkhayal? Berkhayal adalah aktivitas yang “murah”. Bagaimaan tidak, karena berkhayal tidak memerlukan fasilitas khusus, apalagi ongkos. Sekarang juga, Anda pun bisa berkhayal. Tentu saja, khayalan seorang wirausahawan, bukan sembarang berkhayal. Bahkan, di zaman susah, dengan tumpukan persoalan hidup yang harus dipikul, bisa membuat orang pun tidak berani berhkayal. Anda akan tercenung, kalau kami katakan, “Berkhayal pun, perlu keberanian!”

Mengapa? Khayalan yang memicu keberhasilan, atau minimal, keberanian berbuat dan berkreativitas, dihambat pandangan lama yang cuku berurat-akar dalam benak kita, bahwa orang sukses harus ditopang pendidikan dan gelar formal. Sebetulnya, keyakinan ini bisa dipatahkan dengan mudah. Misalnya, hadirkan saja, beberapa nama orang sukses yang lulus SMA pun, tidak. Sejumlah wirausahawan, memulai dari khayalan. Dan ia mulai kembangkan khayalannya, dari nol sampai akhirnya terwujud.

Bill Gates mengimpikan, personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, ia drop out dari studinya, memilih menekuni Microsoft-nya. Ia berhasil. Kini, ia salah satu orang terkaya dunia.

Michael Dell, punya impian menakjubkan: mengalahkan perusahaan komputer raksasa IBM. Ia juga berhasil menjadi orang pertama yang memasarkan komputer pribadi dengan strategi direct marketing. Usahanya yang dirintis tahun 1984 berhasil, penjualan Dell Computer laris manis. Bahkan Dell dalam usia 34 tahun berhasil menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Serikat.

Contoh lainnya, Jeff Bezos. Mimpinya, menjadi pengusaha sukses di dunia e-commerce, perdagangan melalui intemet. Meski baru tahun 1995, yaitu di saat usianya 30 tahun, ia nyemplung ke dunia maya, mendirikan Amazon. com. Situs itu melejit menjadi situs paling banyak dikunjungi orang, untuk mendapatkan informasi atau membeli buku-buku bermutu dari seluruh dunia. Mimpinya terwujud. Ia pun tercatat sebagai miliarder di negeri Paman Sam itu.

a. Berani Mencoba

Andai kita berani mencoba, dan kita lebih tekun dan ulet,

maka pasti kegagalan tak pernah ada

Bisnis modern akan berhenti berputar kalau sikap berani mencoba itu lenyap. Memang, banyak orang yang gagal dalam usahanya, putus asa tanpa, tak berani mencoba lagi. Ini bukan bukan saja merugikan aspek materi atau finansial saja, tapi juga aspek psikologis. karena itu, sekalipun krisis, tetaplah menjadi entrepreneur dengan semangat kewirausahaan tinggi. Sesungguhnya tidak ada yang gagal dalam berbisnis, yang ada hanya karena ia berhenti mencoba, berhenti berusaha. Berani mencoba, lebih tekun dan ulet, kegagalan takkan pernah ada.

Beranilah mencoba. Sebab, tidak satu pun di dunia ini, termasuk di dalam dunia entrepreneur yang dapat menggantikan keberanian mencoba dengan bakat bisnis. Sebagus apa pun bakat seseorang, tidak akan sukses tanpa mulai mencoba. Bagaimana dengan kejeniusan seseorang? Juga tidak. Kejeniusan terpendam, sama saja dengan omong-kosong. Pendidikan terbaik? Juga bukan jaminan. Dunia ini sudah penuh dengan pengangguran berijazah sarjana. Dan ternyata, sekali lagi, keberanian mencoba dan mencoba itulah penentu kesuksesan bisnis kita.

b. Berani Merantau

Keberanian merantau, membangun percaya diri dan kemandirian

Ingat tragedi Sampit? Semua bersedih, karena sebagian pengusaha sukses etnis Madura, ikut hengkang dari Sampit, Kalimantan Tengah. Kami bukan menyoal tragedinya, tetapi dari aspek kewirausahaan. Madura dan Kalimantan, jelas bukan seperti antar rumah di sebuah kampung. Ini dua pulau yang berbeda dan berjauhan. Tapi, berapa banyak orang Madura yang masih kelahiran Madura, lalu merantau ke Sampit. Banyak, bahkan banyak sekali dan kemudian anak-turunnya lahir di Kalimantan.

Sebagian dari mereka, sukses, meskipun awalnya dari nol. Kami hanya mau mengatakan, mereka “dari bukan apa-apa”, merantau, lalu sukses. Etnis lainnya yang fenomenal, orang Jawa asal Tegal. Ibukota saja, mereka taklukkan. Kalau mau menghitung jumlah warung “beridentitas daerah” paling banyak yang mana, jawabannya: Warung Tegal. Di sektor makanan rakyat, ada penjaja bakso keliling. Banyak di antara mereka, mengusung identitas daerah. Seperti bakso Malang , bakmi Wonogori, Pecel Lamongan, atau rumah makan Padang.

Yang lebih fenomenal, dan ini juga lebih global, perantau Cina pun yang sukses di negeri yang mereka datangi. Bukankah Anda yang sering bepergian lintas daerah, pernah mendengar, transmigran petani Jawa atau bali, banyak yang sukses sebagai transmigran di Sumatera, atau Sulawesi? Sukses dalam usaha, juga disokong sebuah keberanian: merantau.

Merantau, punya makna sosial tersendiri. Ia berarti “jauh dari keluarga” yang memicu terbangunnya jiwa kemandirian. Tak bergantung pada keluarga, berarti mulai melangkah menjadi dewasa. Di rantau, apalagi di lingkungan yang tak tahu siapa kita sebelumnya, Anda bisa menjadi pribadi yang baru.

Kebaruan ini, sarat tantangan. Merantau, menyadarkan kita apa kelebihan dan kekurangan kita karena kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan baru. Merantau, membuat seseorang relatif tangguh, karena diterjunkan dalam situasi serba baru.

Perantau, umumnya segan minta tolong. Di situlah, kemauan menjadi lebih termotivasi. Perantau, rata-rata enggan berutang budi. Justru, karena ia orang baru, seorang perantau cenderung menanam jasa untuk banyak orang. “Investasi sosial” ini, pada saatnya berbuah kebaikan. Siapa sangka, banyak orang yang menyukai kepribadian kita, bernagsur-angsur, menjadi pendukung setia langkah kita menganyam kesuksesan. Jadi? Cobalah merantau, temukan jatidiri Anda yang tangguh, kreatif, dan cerdik menangkap peluang

c. Berani Gagal

Hanya orang yaug berani gagal total, akan meraih

keberhasilan total.

Pernyataan John. F. Kennedy ini ada benarnya. salah satu dari kami, membuktikannya. Gagal total, itu karier bisnis , Purdi E.Chandra dalam bukunya “Menjadi Entrepreneur Sukses” bertutur : “Akhir 1981, merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan saya meninggalkan kampus. Saat itu saya pikir, gagal meraih gelar sarjana, tapi bukan berarti gagal mengejar cita-citanya. Tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama. Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Pada awalnya, sepi peminat, cuma dua orang! Saat ini, wow, peminatnya membludak, sampai-sampai Primagama membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia”.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses daripada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, jangan harap orang akan memuji Anda; orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal; Anda tidak disalahkan; semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda; Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain; Ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara; Apalagi ini: bank akan memberikan pinjaman selanjutnya! No way!

Mengapa gambaran seorang entrepreneur yang gagal, kami gambarkan begitu buruknya? Itulah masyarakat kita. Kita cenderung memuji yang sukses dan menang, dan mudah menghujat yang kalah dan gagal. Sebaiknya, setiap kita mulai mengubah budaya itu, beri kesempatan kedua bagi setiap orang.

Menurut pengalaman kami, apabila orang gagal, tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Kegagalan seharusnya membuat enerpreneur sejati tertantang untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali. Tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian, memang banyak. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Seorang entrepreneur, harus berani menghadapi kegagalan, dan memetik hikmahnya. Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah tatkala lengah. Menjadi berani ketika kita takut. ltu sebabnya, kita bisa sepakat pada pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood,”Kegagalan itu penting bagi karier siapapun.”

Mengapa? Banyak orang membuat kesalahan yang sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Sebaliknya. kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan. tapi mengapa seseorang gagal dalam bisnis. Ada beberapa sebab umum.

Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha. Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Buat kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kita bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.

d. Berani Sukses

Seberapa besar rezeki yang kita inginkan, itu sama dengan

seberapa besar kita berani mengambil risiko

Sukses adalah proses. Ia dicapai dengan pengorbanan. Salah satunya, tidak cengeng dengan kegagalan. Sukses, pikirkanlah sebagai keseharian Anda. Keyakinan bisa sukses, selalu dibangun setiap saat. Karena itulah, jangan biarkan Anda kehilangan motivasi untuk sukses, dan terus membangun keyakinan itu dalam sanubari.

Buanglah semua alasan, Anda gagal karena kelemahan dari diri Anda. Kurang cerdas, kurang fit, sudah terlalu tua, dan segudang “rasa kurang”, bukanlah alasan Anda gagal. Sukses memerlukan keberanian tanpa henti, mempelajari kemunduran bisnis.

Hadapkan setiap problem dengan perjalanan sukses wirausahawan lain yang serupa usahanya dengan Anda. Bahkan, Anda simak mereka yang gagal, dan temukan jawabannya mengapa dia gagal. Kesiapan pribadi seorang wirausahawan menghadapi perubahan, juga dipermantap. Jangan mudah dikejutkan perubahan.

Pelajarilah kesuksesan orang lain, himpun semua “sebab-sebab sukses” itu, temukan kelebihan-kelebihan itu, dan mulai mencoba menyusun apa kelebihan Anda, apa kebaruan yang bisa ditelurkan dari proses membandingkan dengan usaha orang lain.

Seorang wirausahawan, adalah yang selalu “melek” dan “buka telinga” terhadap setiap peluang. Sukses wirausahawan, bukan sekadar “rezeki dari langit”, tapi juga kejelian membaca/menangkap peluang. Dan ini memerlukan stamina usaha yang tinggi. Jangan ketakutan lebih dulu, seakan-akan wirausahawan itu orang yang tidak pernah beristirahat. Tidak! Secara fisik, istirahat perlu, tapi sebagai wirausahawan, pikiran “tetap jalan” dalam arti, keseharian kita dibiasakan terus memikirkan, kebaikan-kebaikan apa yang bisa dibangun berdasarkan peluang yang kita hadapi setiap saat.

Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti hanya hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani. Dengan demikian sukses berarti self respect, merasa terhormat, terus-menerus merasa bahagia, dan merasakan kepuasan dari kehidupannya. Itu artinya, kita berhasil berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat. Dengan kata lain, sukses berarti menang. Namun sayangnya, diera globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua entrepreneur berani menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan.

Menurut kami, sebagai wirausahawan, jangan segan Anda nyatakan: hari ini saya sukses. Dengan begitu, rasa percaya diri itu pun terbangun. Kepercayaan diri yang besar itu, membangkitkan semangat untuk meraih kesuksesan. Dan kesuksesan itu, juga berarti perlu dibagi kepada sesama pebisnis. Betapapun sibuknya wirausahawan yang sukses, dalam dirinya ada jiwa sosial saat diminta membantu wirausahawan lain yang belum sesukses dirinya. Yakinlah, dalam jiwa seorang wirausahawan sukses, ada keyakinan: Allah itu kekuatanNya besar yang mendorong umatnya, termasuk para wirausahawan, untuk tidak egois. Karena pribadi yang senang melihat orang lain “gagal melulu”, sejatinya sedang menanti gelombang kegagalan menerpanya. Jadi, beranilah berpikir sukses!

e. Berani Berbeda

Munculkanlah keberanian berpetualang di zaman baru, kendati untuk itu

kita siap membayar harga orang yang menertawakan, mengejek,

dan mengkritik kita.

Mengapa orang menertawakan kita? Atau lebih enteng dari itu, mengapa orang meremehkan kita? Karena kita berbeda. Tapi, apa salahnya jika kita berbeda? Kenyataaannya, menjadi berbeda sudah terjadi sejak kita lahir. Setiap individu di dunia ini berbeda. Tak ada seorangpun yang 100 % sama dengan lainnya. Sidik jari kita cukup membuktikan fakta ini – tak ada dua sidik jari yang sama di dunia. Setiap orang dari kita berbeda – UNIK. Dan keunikan kita memisahkan kita satu dengan lainnya.

Bila kita benar-benar ingin berhasil dalam hidup ini, munculkanlah bakat ini dari dalam diri, biarkan ia bersinar begitu terang. Orisinalitas gagasan, di mana Anda menampakkan “sesuatu yang baru dan terang”, akan membuat keberbedaan itu, memberi nilai lebih bagi pribadi Anda.

Lebih baik kita berani berbeda. Dan, perbedaan kita dari yang lain, adalah wujud ketekunan kita menjadi LEBIH BAIK. Seorang diri, menjadi lebih baik, di antara banyak orang yang berpikiran nyaris sama tentang suatu hal, lalu keberbedaan Anda, diterima banyak orang dan diterima dunia. Luar biasa, bukan.Mari, gunakan energi Anda menghasilkan perbedaan yang bertenaga. Perbedaan yang bernilai.

“Pengusaha swasta memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dunia. Pengusaha kecil telah merampas multi miliaran dolar dari bisnis besar.”

John Naisbit

Bahan Diskusi

Bacalah dengan seksama kasus berikut ini. Lakukan analisis kasus tersebut berdasarkan upaya yang dilakukan untuk memulai usaha.

Sumber Pustaka

Shane, S. 2003. A General Theory of Entrepreneurship.the Individual-opportunity Nexus.

USA: Edward Elgar

Kasus dari Kompas Minggu, Mei 2005

DEWI PROVITA RINI

Sejak Menikah, Dewi Provita Rini (35) sudah memutuskan tidak bekerja di kantor. Dia ingin selalu berada di rumah agar bisa menjadi guru dan pendamping bagi anak-anaknya. Bagi dia, seorang anak harus didampingi langsung orang tua dan tidak bisa pengasuhan anak diserahkan kepada pembantu atau pengasuh anak. Namun Dewi, produsen permainan anak-anak dari kayu, bukanlah orang yang bisa diam di rumah. Sambil menunggu anaknya, dia mencoba berbisnis dengan menjual barang-barang secara kredit kepada para tetangga dan kenalan. Dewi juga pernah menjadi pemasok bahanbahan untuk sebuah perusahaan catering.“Tetapi saya tidak tahan menjadi pemasok untuk catering. Sewaktu-waktu saya bisa di telepon untuk minta dikirim barang. Pernah satu kali mereka minta dikirimi telur. Ternyata telur di peternakan tidak cukup sehingga saya harus menunggu ayam bertelur dulu. Sejak itu saya stres jika mendengar telepon berdering, takut ada pesanan mendadak. Akhirnya saya berhenti menjadi pemasok setelah enam bulan berjalan,” cerita Dewi, yang juga pernah bekerja sebagai asisten dosen ketika masih lajang.

Berhenti menjadi pemasok, Dewi tergerak untuk berjualan. Namun apa yang dijual, Dewi belum tahu. Sampai pada awal tahun 2002, ketika dia membaca iklan di surat kabar tentang

pameran pendidikan, dia tertarik ikut. “Ada teman saya yang membuat mainan anak dari kayu. Dia bersedia meminjamkan barang-barang itu untuk saya jual. Jadi, barang-barang yang tidak laku boleh dikembalikan ke dia.

Saya cuma bermodalkan uang Rp. 500.000 untuk sewa tempat,” cerita ibu dua putri ini. Ternyata semua barang yang dipinjam Dewi dari temannya itu habis terjual. “Mungkin karena barang yang dijual sesuai dengan tema pameran. Mainan anak-anak dari kayu semuanya mempunyai nilai pendidikan. Yakni untuk melatih otak maupun motorik halus. Pengunjung yang datang sebagian besar guru, pendidik dan orang tua sehingga mainan saya laku, “ kenang dia.

Sukses dalam menjual mainan anak-anak membuat Dewi terketuk terjun ke dunia bisnis itu. Padahal selama ini dia merasa sulit menemukan bidang bisnis yang cocok buat dia. “Orang tua saya pernah menawarkan modal untuk bisnis, tetapi saya tolak karena tidak tahu akan berbisnis apa. Setelah saya menemukan bisnis mainan anak ini, sekarang saya justru mencari-cari modal,” ungkap Dewi sambil tertawa.

Dewi lalu mulai mempelajari pembuatan mainan kayu itu. Kebetulan di rumahnya yang terletak di bilangan Pondok bambu, Jakarta Timur banyak perajin kayu. “Saya minta ke perajin kayu itu, bisa tidak membuat mainan seperti ini. Lalu untuk penawaran, saya menggambar sendiri atau saya sablon. Kebetulan saya juga mempunyai tukang sablon karena suami saya punya usaha sablom,” ujar Dewi yang memegang ijazah sarjana akuntansi dari Universitas Trisakti ini.

Membuat mainan dari kayu bukan berarti Dewi mematikan usaha kawannya yang meminjamkan barang. “Dia sudah merasa jenuh bekerja di bidang itu, dan ingin berhenti. Barangbarang yang dipinjamkan ke saya adalah barang-barang sisa. Jadi saya tidak mematikan usaha dia, “ kata Dewi menjelaskan.

Setelah memutuskan terjun ke bisnis mainan anak, Dewi mulai belajar lagi. Dia membukainternet dan mencari berbagai topik seputar pendidikan. Di sana banyak tersedia contoh mainanyang mempunyai unsur pendidikan dan terapi untuk anak. “Sudah saya tetapkan, saya hanya menjual mainan yang mempunyai nilai edukasi. Makanya, saya tidak membuat dan menjual mainan robot, mobil dengan radio kontrol, pedangpedangan, juga pistol-pistolan,” ujar dia menegaskan. Mainan edukasi itu juga diusahakan agar tidak berbahaya bagi anak-anak. Contohnya, setiap benda persegi dibuat tidak memiliki sudut, tetapi agak melingkar. Kayu yang dipakai adalah serbuk kayu yang dipadatkan. “Selain ringan, kayu ini juga mempunyai warna yang cerah sehingga menarik,” kata Dewi. Selain itu Dewi juga rajin datang ke seminar-seminar yang berkaitan dengan pendidikan atau kesehatan. Dia juga membaca buku psikologi pendidikan dan psikologi anak. Dia juga rajin berdiskusi dengan konsumen – yang kebanyakan pendidik – untuk mendapatkan informasi mainan seperti apa yang dibutuhkan. “Setelah mendapat gambaran, baru suami saya mencoba membuat contoh barangnya. Dia insinyur teknik sipil sehingga bisa mengukur dan memotong,” kata istri M. Arif ini.Contoh barang itu kemudian dibawa ke tukang untuk dibuat dalam jumlah banyak. “saat ini saya tidak lagi memakai tukang di sekitar rumah. Saya sekarang mempunyai dua tukang tetap di daerah Cianjur, jawa barat. Ongkos produktif lebih murah disana, “ ujar Dewi. Setelah dibuat dan dihaluskan, barang dibawa ke rumah Dewi untuk di beri warna dan dikemas. Di rumahnya, Dewi dibantu lima karyawan untuk melakukan semua pekerjaan itu, termasuk menjaga pameran. Hingga kini pemasaran yang dilakukan Dewi hanyalah lewat pameran. Menurutnya, untuk memenuhi permintaan pameran saja, dia sudah agak kewalahan. “Sedikitnya setiap bulan satu kali saya berpameran. Untuk pamerannya sih tidak berat, tetapi setelah itu, pemesanan pasti membeludak,” ujar Dewi menjelaskan.

Pernah suatu kali dia menerima pesanan dari Angkatan Udara untuk memasok mainan ke seluruh taman kanak-kanak milik Angkatan Udara. Jumlahnya hingga ribuan. Pelanggannya memang sebagian besar adalah sekolah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pendidikan. “Saya juga sering mendapat pesanan dari majalah anak. Mereka memesan untuk hadiah bagi pembacanya, ujar dia.Menurut Dewi, ketekunan mengikuti pameran merupakan kunci sukses bisnisnya. Dewi mengakui tidak semua pameran yang diikutinya mendatangkan keuntungan. Ada juga pameran-pameran yang justru membuatnya merugi.Namun Dewi tidak melihat satu per satu pameran, tetapi keseluruhannya dalam satu tahun. “Kalau satu tahun, kita akan melihat mengikuti pameran itu mendatangkan keuntungan, terutama pemesanan setelah pameran selesai,” kata dia. Untuk memperbanyak macam barang, Dewi juga membeli mainan pendidikan dari Cina. Semua mainan yang dibeli juga harus mempunyai nilai edukasi. Namun, yang dibeli hanyalah mainan yang terbuat dari plastik. “Kalau bahan bakunya kayu, produk kita masih bisa bersaing dalam harga. “Tetapi kalu dari plastik, produk China lebih unggul,” kata Dewi.

Pemasaran yang bisa dibilang cukup sukses itu tanpa disadari membuat usaha Dewi semakin besar. Sekarang dia sudah dipercaya oleh pemasok bahan baku sehingga untuk belanja bisa memakai giro. Dia menaksir, barang-barang yang ada di tempat penyimpanan saat ini bernilai 100 juta. Ini belum termasuk barang-barang yang dia titipkan di beberapa pusat terapi anak. “Tanpa terasa modal yang hanya Rp. 500.000 itu sekarang sudah menjadi Rp. 100 juta. Modalnya hanya ketekunan dan tidak takut rugi.” tutur Dewi.

Memulai Suatu Bisnis

Mengapa Anda memulai bisnis sendiri?

Tujuan pribadi

- Untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri Anda sendiri

- Untuk membangun perusahaan yang sukses dan menjualnya dengan tujuan

menghasilkan uang

- Untuk membangun dan menjalankan sebuah perusahaan yang berkemhang

- Untuk mendapat penghidupan yang lebih baik ketimbang hanya bekerja untuk mendapat upah

- Untuk membangun sutatu usaha/lapangan kerja untuk anggota keluarga

Tujuan perusahaan

Bisnis

o Mulai dengan lingkup jasa yang luas, namun mengembangkan ceruk untuk pasar.

o Mulai dengan lingkup produk yang kecil dengan sasaran berkem­bang menjadi pemimpin pasar.

o Menyediakan jasa spesialis untuk menetapkan kelompok industrinya.

Pertumbuhan

o Pertumbuhan maksimum dan penekanan, pasar dengan penahanan keuntungan.

o Membuka jaringan cabang nasional dan/atau menunjuk beberapa dealer/ distributor.

o Perkembangan terus-menerus dan terkendali serta perluasan se­jumlah x % per tahun.

o Batasan ukuran usaha untuk membatasi jumlah konsumen dan pegawai.

Staf

o Mempekerjakan keluarga dan teman-teman saja.

o Membangun tim berdedikasi yang terdiri dari penampil berkualitas tinggi, dengan penekanan pada loyalitas.

o Menawarkan bayaran dan kondisi yang sangat baik untuk mereka yang berprestasi, tanpa menyediakan tempat bagi mereka yang tak dapat bekerja dengan baik

Konsekuensi Bisnis

o Terkadang menjadi konglomerat, dengan pertumbuhan yang dicapai melalui akuisisi.

o Tetap terfokus pada spesialisasi dan membangtm perusahaan de­ngan pertumbuhan internal.

o Tetap kecil dengan pertumbuhan sedikit dan berorientasi lokal.

Pertumbuhan

o Pertumbuhan perlahan karena fokus yang dangkal dan orientasi lokal.

o Mengambil banyak risiko, dengan penerimaan utang tingkat tinggi dan kemungkinan pencairan yang seimbang.

o Mengambil rlsiko yang kecil dan telah diperhitungkan untuk men­jaga/menciptakan pertumbuhan konservatif.

o Menerima beberapa sumber keuangan luar dan pemegang saham.

o Mengamhil risiko minimal, dengan sedikit pinjaman atau pemegang saham tambahan

Staf

o Tidak ada staf, selain sedikit bantuan di saat tertentu atau subkon­traktor.

o Loyalitas seadanya dari para staf dengan tingkat turn -over yang masih dapat diterima.

o Staf yang loyal dan stabil yang diidentilikasikan dengan dan men­dukung perusahaan.

o Bisnis keluarga dengan sedikit orang luar dan keraguan untuk berkembang dengan orang luar. Sangat loyal dan nepotis.

2. Beberapa ancaman yang terselubung

Menurut pendapat dan pengalaman saya, terdapat beberapa tuntutan, dan merupakan kesalahan yang sangat lazim dan tersebar luas yang harus di waspadai saat orang meluncurkan usaha, produk dan jasa baru :

- Kebutuhan untuk menyiapkan komitmen 100% ( lebih ) dari usaha mereka untuk membuat usaha atau produk baru mereka berhasil.

- Kebutuhan untuk MENDENGARKAN. Sebelum anda memulai suatu spekulasi bisnis, tanyakan pada konsumen potensial anda apakah mereka bersedia menggunakan jasa Anda.

- Tanyakan bagaimana bisnis atau produk mungkin dapat disempurnakan.

- Pada kebanyakan kasus apa yang ingin mereka beli berbeda dengan apa yang Anda jual.

- Temukan apa yang ingin dibeli oleh konsumen potensial Anda.

Jangan berasumsi bahwa bisnis atau produk Anda itu ‘barang bagus’.

• Banyak oranng mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa bisnis atau produk potensial mereka adalah barang bagus, memproduksi barang yang belum pernah dicoba dan diuji dalam jumlah cukup banyak, dan menolak menjalankan riset pasan apa pun.

• Mereka terlalu takut mengenai biasanya ‘pesaing yang menunggu di luar untuk mencuri ide mereka’ yang sebenarnya tidak pernah ada, dan kemudian menyalahkan dunia luas ketika tak ada yang mau membeli produk di tingkat konsumen dengan syarat dan konsumen yang mereka tetapkan.

• Apakah Anda memahami kultur dan protokol industri di mana Anda ingin, menjual barang Anda?

• Kebutuhan untuk mewaspadai realitas komersial?

• Perlunya riset pasar, dan riset yang terus berjalan dan pengembang­an.

• Banyak orarg sulit menerima bahwa pengecer, dalam banyak hal akan menghasilkan lebih banyak laba dari sebuah produk diban­ding produsennya.

• Mungkin perlu waktu berbulan-bulan hingga produk/jasa Anda terbayar.

Apakah Anda memahami bagaimana penjual dan pemasaran di dunia perdagangan berfungsi?

• Banyak orang tanpa latar belakag penjaulan berpikir mereka dapat menjual lebih banyak dari orang-orang dengan pengalaman dan kontak penjualan dan pemasaran bertahun-tahun. Sangat jarang mereka menjual lebih banyak pada seorang sekali pun.

• Apatisme bisnis dan publik secara umum, untuk mengubah dan menambahkan produk-produk baru.

• Penelitian dan pengembangan terlibat dalam produk-produk baru yang paling berhasil dalam 1 hingga 3 tahun. ‘Ide cemerlang’ semalam akan membutuhkannya banyak pengembangan.

• Perlunya anggaran periklanan dan kampanye penjualan dan pe­masaran yang terintegrasi.

• Perlunya produk yang memenuhi harapan konsumen sebaik sesuai dengan peraturan dan standar industri dan pemerintah.

• Perlunya menyimak konsumen potensial dan memahami apa yang mereka inginkan.

• Konsumen sangat jarang ingin membeli tepat seperti yang Anda ingin jual.

• Anda memerlukan daftar harga/formulir pemesanan dan syarat dan kondisi

perdagangan yang mudah dibaca.

• Spekulan modal bersedia menguangkan spekulan baru yang secara nyata tidak eksis.

• Perusahaan bersedia mengalihkan sejumlah besar uang untuk ‘riset dan pengembangan’ dan ‘izin produksi’ yang secara nyata tidak eksis.

3. Meluncurkan produk, Jasa atau ide baru Anda

Apakah pasar?

Pasar adalah orang-orang dengan:

- Kebutuhan atau keinginan

- Uang untuk dibelanjakan

- Kemauan untuk membelanjakan

Tiga hal dibawah ini merupakan panduan mudah dan cepat untuk di­terapkan dalam bisnis, produk, jasa atau ide baru mana pun yang Anna selama ini Anda renungkan:

o Apakah ini merupakan pasar yang berkembang?

o Apakah produk-produk ini diperlukan oleh pasar?

o Apakah ini kendaraan bagi penjualan?

4. Anda sebenarnya berbasis pasa bisnis apa?

Jika seseorang menanya­kan pada Anda mengenai bisnis baru Anda, mungkin Anda menjawab ‘kami menjual bor’. Bagaimana pun, apa yang sebenarnya Anda jual adalah keun­tungan yang disediakan oleh bor-bor Anda.

Tak seorang pun sungguh-­sungguh menginginkan bor—mereka ingin apa yang dapat dijalankan oleh bor itu. Anda menjual keuntungan dari bor dan memuaskan kebutuhan dari segmen khusus.

Perbedaan antara menjual dan memasarkan

• Memperluas produk • Memperluas pelanggan

• Perusahaan membuat lalu membutuh- • Perusahaan menentukan untuk kan dan mengirim menjual produk

• Manajemen berorientasi menjual • Manajemen berorientasi untung

• Perencanaannya berjangka pendek • Perencanaannya berjangka pan-

untuk produk dan pasar sekarang jang untuk produk baru, pasar

mendatang dan pertumbuhan

yang akan datang

5. Apakah isu-isu ini berhubungan dengan bisnis baru Anda?

• Apahah perubahan di pasar menawarkan kesempatan dan tantang­an?

• Haruskah Anda memperkirakan ulang berbagai isu di sekitar bisnis Anda?

• Haruskah Anda mengkaji ulang arah bisnis Anda?

• Apakah bisnis Anda sudah terfokus?

• Di bisnis apa Anda (sesungguhnya) berada?

• Apakah permainan utamanya?

• Apakah syarat perdagangan konsumen Anda realitis?

• Apakah Anda membeli pembagian pasar?

• Sudahkah Anda melihat kembali dan menetapkan peran perusa­haan Anda di milenium baru?

• Apakah manajemen berada di seputar pelaksanaan keeja dan isu harian?

• Atau apakah manajemen mengatur gambaran besarnya?

• Apakah Anda memberi nilai tambah pada bisnis Anda?

• Apakat prospektif konsumen Anda beroperasi dalam kultur berbeda dengan kebutuhan yang berbeda dengan bisnis Andea?

• Apakah Anda menyadari kebutuhan klien Anda?

• Apakah bisnis Anda berorientasi pada pemasaran?

• Apakah Anda menunjukan pada dominasi pasar?

• Sudakah Anda kehilangan obyektivitas Anda?

• Isu lain apa yang akan dilihat orang luar sebagai hal yang penting terhadap terhadap aktivitas bisnis Anda?

• Apakah Anda bersedia berubah?

• Isu lain apa yang mungkin ada?

6. Surat Langsung (Direct Mail)

Beberapa aturan umum untuk pemasaran melalui surat langsung adalah:

- Surat senilai 65 % dari 3 halaman penyerahan.

- Brosur senilai 25% dari 3 halaman penyerahan.

- Formulir pesanan senilai 10% dari 3 halaman penyerahan.

- Tingkat tanggapan 2% dapat dipertimbangkan sebagai rata-rata!

7. Bisnis baru atau peluncuran produk, penemuan produk atau ide baru

Apakah Anda memerlukan bantuan dan saran profesional dengan rnulainya bisnis baru Anda atau mewujudkan ide Anda menjadi sebuah bisnis?

• Suatu rencana bisnis untuk mencakup produk.

• Beberapa riset pasar dasar.

• lnvestigasi besarnya dan volume pasar potensial.

• lnvestigasi dan diskusi mengenai aktivitas pesaing.

• Desain dan dokumentasi strategi penjualan dan pemasaran sesuai dengan produk Anda.

• Pilihan nama dagang, dan permintaan-permintaan mengenai pe­ngemasan.­

• Nasihat dalam memenuhi tuntutan pajak penjualan.

• Pengaturan harga grosir dan eceran serta poin harga.

• Persiapan daftar harga yang menarik, berilutrasi, detail dan mudah dibaca.

• lntegrasi pemasaran dengan kampanye periklanan, promosi dan publikasi.

• Stand, pengaturan display dan literatur tempat usaha.

• Pengaturan penjualan nasional serta jaringan kerja distribusi.

• Menjual produk pada tingkat pedagang grosir.

• Penjualan, penerbitan invoice dan pengiriman barang.

• Meraih modal perdagangan dan keuangan.

• Menjalankan penjualan, pemasaran, dan mengiklankan produk Anda.

• Investigasi atas kesempatan lisensi dan royalti.

• Pengembangan pasar ekspor.

• Pertimbangan proposal rencana cadangan.

• Memperkirakan kesempatan sukses komersial.

• Risiko-risiko bisnis.

• Pengembangan berbagai biaya.

• Apakakah produk memenuhi tuntutan pemerlntah dan undang­-undang.

• Isu-isu lingkunggan hidup.

• Rentang waktu pengembalan pembayaran.

• Penerimaan pasar.

• Keuntungan komersial.

• Apakat Anda cocok untuk mennjalankan perusahaan ini.

• Apakah Anda dipersiapkan untuk perusahaan ini.

• Apakah Anda mampu bekerja dengan modal yang amat kurang.

• Memperkirakan kemungkinan Anda untuk bertahan hidup.

• Kesempatan lebih lanjut untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan.

• Apakah produk itu mengungguli produk pesaing (Jika ya, ia memiliki 3,7 kali kesernpatan untuk berhasil.)

• Apakah produknya benar-benar berheda dari milik pesaing? (Jika ya, ia memiliki 2,4 kali kesempatan berhasil.)

8. Merencanakan Bisnis

Berikut ini adalah daftar agar dipertimbangkan pada tahap sangat awal dalam, merencanakan sebuah, bisnis baru. Jika Anda menyelesaikan satu hal, tempatkan tanda koreksi (,) di depan setiap pernyata­an.Jika tidak dapat diterapkan pada situasi Anda, ditulis “TD” di awaI setiap pernyataan. Jika terdapat instruksi lain untuk pernya­taan tertentu, sesuaikan respons Anda. Jika Anda menemukan/mengidentifikasi pernyataan tambahan untuk ditambahan pada daftar cek Anda, selipkan di tempat yang tepat. Seiring kemajuan yang Anda capai sepanjang daftar cek ini. Anda akan merasa ber­ada pada jalur Anda untuk merealisasikan bagaimana memulai bis­nis Anda sendiri.

Daftar cek: Menentukan dan merencanakan bisnis

Evaluasi motif dan kemampuan Anda untuk memulai atau mengoperasikan sebuah bisnis sebagai berikut :

Apakah Anda memiliki atau telah menunjukkan… (pilih ‘Ya’ atau ‘Tidak’)

- Kebutuhan untuk mencapai hasil

- Hasrat untuk mencari kesempatan-kesempatan baru

- Kemauan mengambil resiko

- Suatu energi tingkat tinggi

- Kemampuan memulai sendiri, berunding dan membuat kesepakatan

- Hasrat untuk menyusun strategi pusat sebuah bisnis secara pribadi pada prinsip-prinsip Anda sendiri

- Kemampuan memotivasi orang lain dan bergaul baik dengan mereka

- Dukungan dari keluarga (orang tua/pasangan)

- Tanggung jawab penting dan pengalaman kepimpinan di awal karir Anda

- Berpikir kreatif

- Kemampuan melaksanakan ide—ide

- Pelatihan teknis yang sehat

- Pelatihan bisnis sebelumnya dari sekolah

-Tertarik dalam meneliti konsep bisnis yang di tawarkan

- Model peran yang kokoh atau mentor

- Keterampilan dan kecerdasan berpolitik dalam sebuah organisasi

- Kemampuan menyesuaikan gaya manajemen untuk saat-saat tertentu

- Pelatihan manajemen khusus di luar tugas

- Integritas dan kejujuran

- Kemampuan kepemimpinan

- Rajin dan ketahanan

- Pengendalian diri

- Kemampuan merencanakan dan melihat jauh ke depan

- Bakat dan hasrat bagi aktvitas bisnis terfentu

- Ambisi dan etika kerja yang kokoh

- Kecerdasan dan pola pikir pembelajaran yang berkesinambungan

- Keterampilan berkomunikasi secara efektif

- Kemampuan mengambil keputusan yang sehat

- Kemampuan untuk mendelegasikan secara efektif

- Uang yang disimpan untuk diinvestasikan dalam bisnis

Semakin banyak kualitas yang Anda miliki, semakin besar

Anda dapat secara berhasil memulai dan menjalankan sebuah

bisnis

Sebuah Analisa SWOT

Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, Ancaman

Sebagai bagian dari proses peren­canaan bisnis, suatu analisa dan tin­jauan atas Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Ancaman (SWOT) suatu organisasi harus dilakukan. Ini dapat membantu manajemen dalam mengidentifikasi kompoten­si, keterampilan, kultur dan sumber daya organisasi yang membedakan­nya dari yang lain.

Di bawah ini adalah analisa SWOT yang mungkin menjelaskan tentang toko furnitur

KEKUATAN KELEMAHAN

• Berada di tempat yang mudah • Tak ada bisnis lain yang mendukung

terlihat, jalan utama, lokasi di kota di daerah sekitar

• Telah menetap di lokasi yang sama • Tempat parkir terbatas

sama selama 10 tahun • Hanya dapat diakses dari satu sisi

• Arus kas bisnis yang baik jalan saja

• Merupakan spesialis dalam jenis • Bangunan nampak kuno

produk yang sedikit dan terbatas • Ruang pamer memerlukan citra baru

• Perputaran stock yang tinggi • Staf penjualan kurang termotivasi

• Simpanan yang menyedia­kan • Sarana penjualan yang kurang me-

modal kerja madai di tempat usaha

• Memiliki dasar konsumen, yang kuat • Tidak ada tempat untuk menemui

penjual di tempat usaha

• Pengembalian yang baik atas dana • Jenis produk terkonsentrasi

pemilik

- Apa yang harus saya lakukan untuk mempertahankan kekuatan-kekuatan ini?

- Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini?

KESEMPATAN ANCAMAN

• Merenovasi bangunan yang sekarang • Terdapat banyak pengecer furnitur

dan menciptakan pengembangan baru nasional ddalam radius 3 km

• Meningkatkan jenis dan campuran pro- • Larangan parkir yang meningkat

duk

• Memotivasi dan melatih staf penjualan • Meningkatnya aktivitas pesaing da-

lam wilayahnya

• Membuat kerja sama baru dengan

dealer

• Membentuk aliansi strategis

- Apa yang dapat saya lakukan untuk menarik keuntungan dari kesempatan-kesempatan ini?

- Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi ancaman-ancaman ini?

18 June, 2009 at 14:35 by pambudi

Tags: Add new tag
Posted in Uncategorized | 208 Comments »

18 Jun 2009

KEMBANGKAN USAHA ANDA MELALUI FRANCHISE

“Bisnis Anda jalan ditempat? Ingin mengembangkan usaha tapi tidak punya modal? Bingung mengelola manajemen franchise yang Anda beli? Ragu ekspansi usaha Anda?”

Bisnis waralaba (franchise) di Indonesia mulai terlihat marak beberapa tahun terakhir ini, banyaknya pengunjung dan peserta pameran franchise (lokal & asing) di JHCC 16 – 18 November 2005 menjadi bukti nyata. Namun, masih banyaknya pertanyaan-pertanyaan mengenai waralaba menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang belum paham benar mengenai bisnis ini.

Sebagai salah satu bentuk market education (pendidikan kepada masyarakat), maka kami Wijawiyata Consulting ingin memberikan informasi tentang Waralaba (Franchise).

1. APA ITU WARALABA

Menurut Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), waralaba (franchise) adalah suatu bentuk kerjasama, dimana pemberi waralaba (franchisor) memberikan ijin dan hak kepada penerima waralaba (franchisee) untuk menggunakan hak intelektualnya seperti nama atau jasa dan sistem operasi usahanya untuk suatu jangka waktu tertentu, dan sebagai timbal balik penerima waralaba membayar sejumlah tertentu initial fee (royalty) dan mengikuti sistem dan sebagainya dari pemberi waralaba.

2. MENGAPA HARUS WARALABA

Keuntungan Franchisor

Keuntungan Franchisee

§ Perluasan usaha lebih cepat dan luas

§ Berusaha tidak dari nol

§ Modal investasi dan operasional lebih kecil

§ Dukungan sistem operasi dan pemasaran yang sudah terbangun dan handal (SOP, Manual Operasi)

§ Keuntungan lebih optimal (initial fee, royalty fee)

§ Jaringan pemasaran yang lebih luas

§ Organisasi perusahaan lebih teratur dan terstandarisasi

§ Bantuan teknis operasional pelaksanaan usaha

§ Relasi bisnis yang lebih luas

§ Dukungan jaringan bahan baku dan suplier


3. BISNIS YANG DIWARALABAKAN

Kriteria usaha yang dapat diwaralabakan, antara lain :

a. Unik (Unique)

Memiliki keunggulan yang unik, spesifik dan tidak mudah ditiru

b. Terbukti (Proven)

Telah dikenal baik oleh masyarakat, menguntungkan, dan dikelola dengan baik

c. Baku (Standard)

Semua aspek usaha dapat distandarisasi secara baik.

d. Mudah Dioperasikan (Applicable)

Usahanya mudah dioperasikan oleh pihak lain yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai usaha tersebut.

Jenis Usaha yang dapat diwaralabakan, antara lain :

a. Usaha Makanan & Minuman

b. Ritel (Food & Non Food)

c. Salon, Spa & Beauty

d. Jasa Binatu & Perbaikan Rumah Tangga/Kantor

e. Jasa dan Business Center (Service & Business Aid)

f. Jasa Pendidikan Non Formal

g. Jasa Pendidikan Formal

h. Jasa Fitness, Body Care & Health Massage

i. Pabrikasi & Kemasan Softdrink

j. Jasa Fotography, Art/Gift/Parcel, Furniture, Anti Karat

k. Produk & Jasa Otomotif

l. Jasa Telematika dan Penjualan Komputer/Elektronik

m. Produk/Jasa Property/Real Estate

n. Hotel/Guest House, Rekreasi & Hiburan

o. Jasa Promosi/Periklanan/Distribusi, Multimedia/Cetakan

4. MENJADI FRANCHISOR

Persiapan yang harus dilakukan untuk menjadi franchisor, meliputi :

a. Aspek Hukum

Kejelasan mengenai status usaha, lisensi usaha, paten produk, merek dan logo.

b. Aspek Pemasaran

Pembuatan program pemasaran produk, pesaing, segmen pasar, konsumen, paket usaha, dan promosi.

c. Aspek Manajemen dan SDM

Standarisasi semua sistem operasional (pemasaran, keuangan, SDM, operasi dan sistem informasi) dan pembinaan dan pelatihan usaha.

d. Aspek Keuangan

Business plan, neraca balance, cash flow, persediaan produk, bahan baku dan pembelian produk.

e. Aspek Biaya

Biaya desain sistem waralaba, biaya konsultan, pembuatan SOP, persiapan outlet


5. MENJADI FRANCHISEE

Hal-hal yang harus diperhatikan bagi para franchisee, antara lain :

a. Franchisor

Kenali franchisor yang akan anda pilih (identitas perusahaan, track record perusahaan, merek & produknya, pemilik/pengelolanya)

b. Masa Berlaku Kontrak, Initial Fee, Royaty Fee, dan Marketing Fee

Pahami lamanya masa kontrak, besarnya initial fee, royalty fee dan marketing fee serta proses perhitungannya.

c. Perjanjian Waralaba

Kaji secara mendalam perjanjian waralaba yang diajukan.

d. Modal Kerja

Hitung dan persiapan modal kerja yang dibutuhkan paling tidak untuk 3 bulan pertama.

e. Bantuan Manajemen & Teknis Operasional

Ada tidaknya bantuan manajemen dan teknis operasional dari franchisor selama masa kontrak/pelaksanaan usaha.

f. Dukungan Pemasaran

Seberapa jauh dukungan pemasaran diberikan oleh franchisor (promosi, brosur dan program pemasaran lainnya)

g. Pasokan Barang dan Jasa

Pahami ketersediaan pasokan barang dan jasa, proses pemesanan dan pembeliaannya serta jaminan kualitas yang diberikan.

18 June, 2009 at 14:25 by pambudi

Posted in Uncategorized | 190 Comments »

26 May 2009

Berjualan secara Diam-Diam:

Teknik Baru untuk Mendongkrak Hasil Bisnis Internet Anda

Salah satu cara paling spektakuler dalam melariskan produk adalah dengan menyembunyikan penjualan anda. Apa maksudnya? Ya, jangan katakan pada pembeli bahwa anda sedang menjual sesuatu. Tapi, biarkan konsumen melakukan pembelian secara suka rela.

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan. Dalam dunia offline contohnya anda menggelar acara amal. Di sana anda katakan bahwa apa yang anda peroleh akan disumbangkan pada korban bencana. Tapi, jangan biarkan donatur anda menyumbangkan uang mereka secara cuma-cuma. Berikan produk-produk yang anda punya sebagai imbalan. Dengan cara ini, keuntungan yang anda peroleh memang bukan uang semata. Tapi juga popularitas produk!

Orang akan merasa mereka anda beri produk secara gratis. Padahal tidak, mereka anda berikan produk hanya jika mereka memberikan sumbangan. Popularitas yang anda peroleh sangat besar nilainya melebihi jumlah nominal uang yang dibayarkan. Semakin dikenal produk anda semakin banyak orang yang penasaran untuk membeli. Saya yakin, cara ini lebih efektif dibanding memasang iklan setiap hari.

Atau, cara lain yang bisa anda tempuh dengan menggelar kompetisi. Misal kontes kecantikan atau modeling. Undang para gadis datang ke tempat kontes. Biasanya untuk acara seperti ini bisa menyedot perhatian publik. Gadis-gadis cantik pasti datang berbondong-bondong ke lokasi kontes. Nah, di sini anda bisa menjual berbagai kebutuhan orang saat sedang bosan menunggu. Misal, air mineral, makanan ringan, tissue, atau bahkan kipas.

Sebelumnya, jangan katakan kalau anda adalah penggagas acara tersebut. Kalau perlu gandeng pihak lain yang lebih berkompeten dalam acara seperti ini. Anda tinggal memanfaatkan momen-momen saat orang-orang membutuhkan sesuatu agar anda bisa menjual yang mereka butuhkan. Ini sekadar contoh bagaimana menciptakan peristiwa yang bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan uang.

Atau begini saja, anda menciptakan sebuah trend yang bisa mendongkrak penjualan produk anda. Saat ini bisnis internet semakin marak. Seiring dengan banyak pendatang baru (newbie) untuk menyosialisasikan bisnis internet lebih luas, anda bisa menggagas acara seminar bisnis. Sekali lagi ini cuma contoh. Anda harus berdiri sebagai dalang yang ada di balik layar. Jangan umumkan bahwa acara ini adalah ide anda. Undang para pakar di bidang bisnis dan internet. Dan anda bisa memajang berbagai produk anda yang berkaitan dengan bisnis internet.

Mau tidak mau mereka pasti beli karena mereka ingin segera mempraktekkan ilmu yang mereka dapat dari seminar. Selain itu, peserta seminar akan menyebarluaskan berita bahwa “bisnis internet adalah bisnis masa depan. Mari berbondong-bondong berbisnis internet!”

Secara online anda bisa menerapkan hal ini dengan membuat blog yang mendukung situs web penjualan anda. Anda bisa menuliskan artikel-artikel yang bisa lebih membantu konsumen mengenal produk yang anda jual. Membantu konsumen untuk memecahkan problem yang dihadapi dengan produk anda sebagai jalan keluarnya.

Berjualan secara diam-diam lebih efektif memikat pembeli daripada yang terang-terangan. Tidak bosan saya ingatkan, orang cenderung malas jika langsung ditodong untuk membeli sesuatu. Kurang lebih perasaan yang dialami seperti saat anda didatangi salesman. Nah, untuk mensiasati kondisi psikologi pembeli, anda perlu cara-cara cerdas. Ciptakan peluang, datangkan pelanggan, dan silakan berjualan dengan diam-diam. Mudah bukan?

Cara-cara yang saya terangkan di atas sebenarnya bukan fokus pada penjualan anda. Tapi fokus pada konsumen anda. Dan yang paling saya suka dalam cara-cara seperti ini, kita tidak egois mementingkan kepentingan diri sendiri. Kita tidak hanya fokus menghasilkan keuntungan pribadi, tapi yang utama adalah membantu orang lain. Anda tidak sibuk memperhitungkan apa yang anda peroleh, tapi apa yang dapat anda berikan. Ya, berikan apa yang diinginkan orang lain! Di situlah letak seni pemasan dalam bisnis. Memberikan apa yang mereka mau!

Dalam berjualan secara diam-diam ini anda mendahulukan kepentingan orang lain. Maksud anda untuk berjualan anda taruh di bagian akhir. Dan fokus pada membantu orang lain sebagai tujuan utama. Apa yang anda hasilkan hanyalah cipratan dari tujuan utama anda untuk membantu orang lain.

Begitu intinya! Jangan pikirkan berapa uang yang akan anda dapat, tapi berikan yang terbaik untuk para konsumen anda. Itu dulu yang perlu dicamkan dalam diri kita.

Saya sungguh yakin, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, tidak ada yang percuma di dunia ini, tidak ada pula yang sia-sia. Apalagi untuk aktivitas membantu orang lain sudah seharusnya kita lakukan sebagai sesama manusia

26 May, 2009 at 11:18 by pambudi

Posted in Uncategorized | 171 Comments »

  • Categories

    • Uncategorized (3)
  • Archives

  • Calendar

    • January 2012
      M T W T F S S
      « Jun    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Blogroll

    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Meta

    • Log in
    • Validerande XHTML
    • XFN
    • WordPress
intensi…usaha is powered by WordPress
Theme Design by Generic Designer

Entries (RSS) and Comments (RSS)